Thursday, April 21, 2016
[Surat Untuk Nona] Tak Sendirian
Selamat malam, Nona, bagaimana kabarmu? Semoga senantiasa dibahagiakan yak.
Kudengar kau tengah merasa sendirian? Benarkah? Meski aku percaya kau tak lupa bahwa Tuhan tak pernah meninggalkan, tapi memang akan ada saat dimana kita merasa berjuang seorang diri. Lalu apanya yang salah, bukankah kita memang tengah menuju impian kita masing-masing?
Tentu saja kita tak pernah bisa memaksa setiap yang dekat dengan kita untuk punya impian serupa, bahkan walau hanya untuk sekadar memahami impian kita. Impian kita adalah tanggung jawab kita sendiri. Jika memang merasa sendiri dan ingin ada temannya, kita yang harus aktif mencari–mencari teman yang sepemikiran misalnya.
Setiap kita punya proses pembelajarannya masing-masing. Titik merasa sendiri itu tak bisa dihindari, hanya bagaimana cara kita menanggapi.
Hei, kau lupa? Kau tak berjalan sendiri, ada aku yang tengah berjalan pula pada tujuan yang sama. Kita tengah sama-sama belajar menujunya dengan cara yang benar sesuai anjuran-Nya, kan? Ah, jangan bercanda, jangan bilang kau lupa itu.
Tak perlu khawatir tentang bagaimana pertemuan kita, di mana pertemuan kita, dan kapan waktunya, tapi khawatirlah tentang apa yang sudah kita persiapakan untuk menujunya. Percayalah, bertemu saat kita masih sama-sama banyak kurangnya; kurang pemahamannya, kurang imannya, kurang ilmunya, seringkali kita hanya akan dihantui begitu banyak keraguan.
Mari sama-sama perbaiki lagi niatnya. Jika benar ingin dilakukan untuk-Nya, mari sama-sama terus berupaya senantiasa menuju itu sesuai jalan yang benar dianjurkan-Nya.
Ada keromantisan yang tak perlu khalayak banyak tahu, cukup kau, aku dan doa-doa dalam diam kita yang kita dekap kuat-kuat. Bukan untuk membuat sesiap kagum, hanya untuk berupaya selalu membuat-Nya tersenyum.
Lagi pula apalah arti bahagia kita, ketika tanpa kita tahu murka-Nya tengah menunggu-nunggu.
Jangan takut sendirian, ada Tuhan, aku, dan doa-doa dalam diam yang sebenarnya telah menyelamatkan. Tuhan menjaga kesendirianmu untuk aku, Tuhan menjaga kesendirianku untuk kamu. Kita tengah sama-sama saling menjaga. Kuharap kau pun percaya demikian. :)
Karena sudah larut, aku akhiri dulu ya, kita sambung lain waktu. Jangan lupa berbahagia yak. Janji!
Selamat malam, Nona. Selamat rehat. Semoga mimpimu aku. Ehem … aku nanana padamu, selalu. ^_^
NB : This letter seems indeed meant to me ^_^
Friday, May 8, 2015
Yang lagi Hits
Belakangan ini bahasannya melulu tentang jodoh. Maklumnya periode umur 20-an memang lagi Hits banget bahasan tentang jodoh.
Ga di media sosial, web portal berita, majelis majelis ilmu, pengajian, lingkaran, arisan keluarga, reuni sekolah, infotainment pun sering kali meliput kabar kabar bahagia dari pasangan yang baru saja menikah, baru saja punya anak. Sebut aja dude alisa, oki rio, dan yang paling baru nii, risti tagor dan stuart colin (hiii apal bner ya saya). Disitu kadang para mblo mblo merasa envy.
Dan setiap bahasan dimana pun itu ada aja yang dikait kaitkan dengan perihal jodoh dan menikah. Ehmm.
#saat pembagian kartu bpjs di kantor
R: mas pian, ko mas pian dapet kartu bpjsnya 4 sii,
S: iyalah ri, kan mas pian udh kwartet(1 istri dan 4 anak)
Klo kita kan masih single *ehhhhh
#bikin kopi
R: bikin kopi ah biar gendut
P: apa hubungannya kopi sama gendut
Y: mau gendut? Jangan minum kopi, mau gendut ya married (apalah apalah)
P: apaan boby blum married aja udah ndut.
#konsultasi Tugas akhir
N: ka, sekarang lagi musim nikah deh kayanya. Masa bulan ini aku dpet undangan terus.
S: iya deh, aku juga bulan ini hampir tiap minggu k kondangan.
Itu syifa minggu kmrn aku ksni dia ada undangan, minggu ini aku kesini juga ada undangan. Masya Allah...
K: terus k temen2aku juga udh bnyak yang punyak..
*untung aja dia ga tanya giliran kk kapan? :D
#telponan sama Retno
R: ci, lagi dmn?
S: di st bjong mau k depok. Ada apa no?
R: Ci ka dwi nikah nya kapan? Ko difacebooknya ka miko udh ada foto nikahannyq aja?
S: bsok ko tgl 10 ohh, akadnya emang kmrin, resepsinya besok.
R: ohh kirain salah tanggal.
R: ci, facial yuu.
S: kapaaan, retno kan bntar lagi mau brangkat. Ntar aja kalau retno udh pulang.
C: ehmm iya dh. Eh ci tauu ngga, riva kan juga mau nikah bulan juni.
S: iya??? Waaaa, alhamdulillah sbeng dngernya,....
R: iyaa, di WA gue kirim undangan gitu..
#dirumah
S: mah pa, bsok teteh mau k kondangan ya, ke bayu sma ka dwi
B: ohh ok, perlu dianter ga?
S: ga usah pa. Kta tmen teteh, masa kondangan sm orang tua, emangnya bagi rapott? Hahah
B: ohh jadi gitu, ga mau lagi ni dianter anter?
S: becanda pa :D
Dulu, setiap kali dapet undangn nikahan dari temen, atau cerita tentang temen yang hamil atau baru aja melahirkan, pastii bapa sama mamah tanya. Teteh kapan nyebar undangan, mamah kapan ya punya cucu, perkembangannya gimana??
Aku hanya jawab, sabar ya mah, semua ada waktunya. Mamah sama bapa doain aja.
Alhamdulillah sekarang mereka ngerti dan ga pernah tuh tanya tanya gitu lagi. Karena setiap mereka tanya hal itu jawabanku tetep sama.
Sabar, semua ada waktunya. Sebuah nama telah tertulis dalam rencana-Nya :-)
"Mah, Pa inget yaa, kalau ada yang tanya anaknya bu Endang kapan nikah, anaknya pa Feri kapan nikah. Pertama senyum terus jawab, Insya Allah segera bantu doa ya..
Calonnya sudah ada?
Alhamdulillah ada. "
#belajar sabar dan yakin dengan ketentuan-Nya
Tuesday, May 5, 2015
Jika jodoh adalah bagian dari rizqi
Jika jodoh adalah bagian dari rizqi, boleh jadi berlaku pula kaidah yang sama. Sosok itu telah tertulis namanya. Tiada tertukar, dan tiada salah tanggal. Tetapi rasa kebersamaan, akan ditentukan oleh bagaimana adab dalam mengambilnya. Bagi mereka yang menjaga kesucian, terkaruniakanlah lapis-lapis keberkahan. Bagi mereka yang mencemarinya dengan hal-hal mendekati zina, ada kenikmatan yang kan hilang meski pintu taubat masih dibuka lapang-lapang. Sebab amat berbeda, yang dihulurkan penuh keridhaan, dibanding yang dilemparkan penuh kemurkaan.
— Salim A. Fillah
Saturday, April 11, 2015
Inilah Caraku
tak juga mengirim pesan untuk menanyakan kabarmu mungkin ini tak biasa.
Inilah cara terbaik
Dalam diamku...
Dalam cara tak biasaku...
Meski berat...
Agar bersamamulah segala keindahan kelak jika telah tiba waktunya, kan kita arungi hidup ini bersama hingga menuju Surga-Nya...
Sunday, March 15, 2015
Wednesday, March 11, 2015
Memahami hujan
Kamu boleh jatuh dimana saja.
Kapan saja. Itu adalah hakmu. Dengan rintikmu atau dengan derasnya.
Aku berusaha mengenalimu dari pertandamu.
Berusaha merasakan kehadiranmu yang tak pernah aku tahu.
Dari sekian banyak hujan yang jatuh di bumi. Dimana kamu diantara
mereka.
Hujan yang ditunggu. Karena aku tahu hujan pun sebenarnya menunggu.
Sama sama tidak tahu kapan akan jatuh dan dimana dijatuhkan.
Karena semua itu telah dipilihkan. Hujan yang nanti jatuh mungkin airnya masih di lautan.
Masih menunggu naik ke permukaan awan.
Menunggu ditiupkan angin.
Aku berusaha mengerti, bahwa ada hal yang harus dilalui oleh hujan sebelum ia jatuh ke bumi.
(c)kurniawangunadi
Friday, December 26, 2014
Yang Terbaik
Kata mereka, memilihlah dengan baik, pilihlah yang terbaik. Yang membuatmu selamat dan bahagia tidak hanya di dunia, tapi juga menuju Tuhan. Kata mereka lagi, pilihlah yang benar-benar bisa menjadi imam yang baik, dengan segala kepatuhannya pada Tuhan, dengan segala cintanya pada ibu dan ayahnya.
Bukankah yang terbaik menurut manusia, tak selalu paling baik menurut Tuhan? manusia selalu saja bebal dengan menentukan ukuran standarnya sendiri. Sungguh, manusia tak pernah tau apa yang ada dalam hati, tak pernah tau seperti apa kehidupan di depan, seperti apa bentuk cinta terbaik pun, manusia tak pernah mengerti.
Bagaimana bila pilihanku jatuh padamu?
Aku tak tau apa kau yang terbaik atau bukan, karena aku juga tak tau apa aku ini baik atau tidak. Tapi aku yakin, Tuhan akan menyatukan orang yang pantas bersatu.
Bagiamana kalau kita buat kesepakatan?
Kita sama-sama menjadi yang terbaik saja di hadapan Tuhan, berdoa menunggu disatukan.
Bagiamana? kau setuju, kan…
Oleh : Alfi Fatimah Kurniawan
Thursday, December 4, 2014
Friday, April 13, 2012
Wednesday, March 7, 2012
Mencintai Ia Dalam Hening
Inginkah ku bisikkan bagaimana mencintai dengan syahdu..?
Maka dengarlah… !!
Gadis, Saat ku jatuh cinta..
Tak akan ku berucap..
Tak akan ku berkata..
Namun ku hanya akan diam..
Saat ku mencintai, takkan pernah ku menyatakan.
Tak akan ku menggoreskan..
Yang ku lakukan hanyalah diam..
Aku tahu, cinta adalah fitrah..sebuah anugrah tak terperih..
Karena cinta adalah kehidupan.
Karena rasa itu adalah cahaya.
Aku tahu, hidup tanpa cinta, bagaikan hidup dalam gelap gulita..
Namun.. Saat rasa itu menyapa, maka hadapi dgn anggun.
Karena rasa itu ibarat belenggu pelangi, dengan begitu banyak warna.
Cinta terkadang membuatmu bahagia, namun tak jarang membuatmu menderita.
Cinta ada kalanya manis bagaikan gula,
Namun juga mampu memberi pahit yang sangat getir.
Cinta adalah perangkap rasa..
Sekali kau salah berlaku, maka kau akan terkungkung dalam waktu yang lama dalam lingkaran derita.
Kasihku … , Agar kau dapat keluar dari belenggu itu.
Dan mampu melaluinya dgn anggun..
Maka mencintailah dalam hening.
Dalam diam..
Tak perlu kau lari, tak perlu kau hindari.
Namun juga, jangan kau sikapi dgn berlebihan.
Jangan kau umbar rasamu.
Jangan kau tumpahkan segala sukamu..
Cobalah merenung sejenak dan fikirkan dgn tenang..
Kita percaya takdir bukan?
Kita tahu dengan sangat jelas...
Dia, Allah telah mengatur segalanya dengan begitu rapinya?
Jadi, apa yang kau risaukan?
Biarkan Allah yg mengaturnya,
Dan yakinlah di tangan-Nya semua akan baik-baik saja..
Cobalah renungkan...
Dia yang kau cinta, belum tentu atau mungkin tak akan pernah menjadi milikmu..
Dia yang kau puja, yang kau ingat saat siang dan yang kau tangisi ketika malam,
Akankah dia yang telah Allah takdirkan denganmu?
Kasihku… , kita tak tahu dan tak akan pernah tahu..
Hingga saatnya tiba..
Maka, ku ingatkan padamu, tidakkah kau malu jika smua rasa telah kau umbar...
Namun ternyata kelak bukan kau yg dia pilih untuk mendampingi hidupnya?
Kasihku…, Karena cinta kita begitu agung untuk di umbar..
Begitu mulia untuk di tampakkan..
Begitu sakral untuk di tumpahkan..
Dan sadarilah gadis, fitrah kita wanita adalah pemalu,
Dan kau indah karena sifat malumu..
Lalu, masihkah kau tampak menawan jika rasa malu itu telah di nafikan?
Masihkah kau tampak bestari jika malu itu telah kau singkap..
Duhai gadis, jadikan malu sebagai selendangmu..
Maka tawan hatimu sendiri dalam sangkar keimanan..
Dalam jeruji kesetiaan..
Yah.. Kesetiaan padanya yg telah Allah tuliskan namamu dan namanya di Lauhul Mahfuzh..
Jauh sebelum bumi dan langit dicipta..
Maka cintailah dlm hening.
Agar jika memang bukan dia yg ditakdirkan untukmu,
Maka cukuplah Allah dan kau yg tahu segala rasamu..
Agar kesucianmu tetap terjaga..
Agar keanggunanmu tetap terbias..
Maka, ku beritahukan padamu,
Pegang kendali hatimu..Jangan kau lepaskan.
Acuhkan semua godaan yg menghampirimu..
Cinta bukan untuk kau hancurkan, bukan untuk kau musnahkan..
Namun cinta hanya butuh kau kendalikan, hanya cukup kau arahkan..
Gadis... yg kau butuhkan hanya waktu, sabar dan percaya..
Maka, peganglah kendali hatimu,
Lalu..Arahkan pd Nya..
Dan cintailah dalam diam..
Dalam hening..
Itu jauh lebih indah..
Jauh lebih suci…
Friday, March 4, 2011
The Sweetest Story of Love .. ^^
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.
Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.
Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?
”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”
Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.
Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”
NB : Ternyata sebelum Ali dan Fatimah menikah, mereka berdua udah saling mencintai, tapi masing2 dari mereka tidak saling mengungkapkan perasaan itu. Mereka lebih memilih menjaga kehormatan dan kesucian diri juga hati mereka dari Cinta yang sesungguhnya belum tepat bersemayam di hati mereka. Sampai akhirnya Allah menyatukan mereka dengan cara yang Sangat indah, yaitu dengan ikatan pernikahan yang suciiii.
Tuesday, February 22, 2011
Mencintai Ia Dalam Hening
Inginkah ku bisikkan bagaimana mencintai dengan syahdu..?
Maka dengarlah… !!
Gadis, Saat ku jatuh cinta..
Tak akan ku berucap..
Tak akan ku berkata..
Namun ku hanya akan diam..
Saat ku mencintai, takkan pernah ku menyatakan.
Tak akan ku menggoreskan..
Yang ku lakukan hanyalah diam..
Aku tahu, cinta adalah fitrah..sebuah anugrah tak terperih..
Karena cinta adalah kehidupan.
Karena rasa itu adalah cahaya.
Aku tahu, hidup tanpa cinta, bagaikan hidup dalam gelap gulita..
Namun.. Saat rasa itu menyapa, maka hadapi dgn anggun.
Karena rasa itu ibarat belenggu pelangi, dengan begitu banyak warna.
Cinta terkadang membuatmu bahagia, namun tak jarang membuatmu menderita.
Cinta ada kalanya manis bagaikan gula,
Namun juga mampu memberi pahit yang sangat getir.
Cinta adalah perangkap rasa..
Sekali kau salah berlaku, maka kau akan terkungkung dalam waktu yang lama dalam lingkaran derita.
Kasihku … , Agar kau dapat keluar dari belenggu itu.
Dan mampu melaluinya dgn anggun..
Maka mencintailah dalam hening.
Dalam diam..
Tak perlu kau lari, tak perlu kau hindari.
Namun juga, jangan kau sikapi dgn berlebihan.
Jangan kau umbar rasamu.
Jangan kau tumpahkan segala sukamu..
Cobalah merenung sejenak dan fikirkan dgn tenang..
Kita percaya takdir bukan?
Kita tahu dengan sangat jelas...
Dia, Allah telah mengatur segalanya dengan begitu rapinya?
Jadi, apa yang kau risaukan?
Biarkan Allah yg mengaturnya,
Dan yakinlah di tangan-Nya semua akan baik-baik saja..
Cobalah renungkan...
Dia yang kau cinta, belum tentu atau mungkin tak akan pernah menjadi milikmu..
Dia yang kau puja, yang kau ingat saat siang dan yang kau tangisi ketika malam,
Akankah dia yang telah Allah takdirkan denganmu?
Kasihku… , kita tak tahu dan tak akan pernah tahu..
Hingga saatnya tiba..
Maka, ku ingatkan padamu, tidakkah kau malu jika smua rasa telah kau umbar...
Namun ternyata kelak bukan kau yg dia pilih untuk mendampingi hidupnya?
Kasihku…, Karena cinta kita begitu agung untuk di umbar..
Begitu mulia untuk di tampakkan..
Begitu sakral untuk di tumpahkan..
Dan sadarilah gadis, fitrah kita wanita adalah pemalu,
Dan kau indah karena sifat malumu..
Lalu, masihkah kau tampak menawan jika rasa malu itu telah di nafikan?
Masihkah kau tampak bestari jika malu itu telah kau singkap..
Duhai gadis, jadikan malu sebagai selendangmu..
Maka tawan hatimu sendiri dalam sangkar keimanan..
Dalam jeruji kesetiaan..
Yah.. Kesetiaan padanya yg telah Allah tuliskan namamu dan namanya di Lauhul Mahfuzh..
Jauh sebelum bumi dan langit dicipta..
Maka cintailah dlm hening.
Agar jika memang bukan dia yg ditakdirkan untukmu,
Maka cukuplah Allah dan kau yg tahu segala rasamu..
Agar kesucianmu tetap terjaga..
Agar keanggunanmu tetap terbias..
Maka, ku beritahukan padamu,
Pegang kendali hatimu..Jangan kau lepaskan.
Acuhkan semua godaan yg menghampirimu..
Cinta bukan untuk kau hancurkan, bukan untuk kau musnahkan..
Namun cinta hanya butuh kau kendalikan, hanya cukup kau arahkan..
Gadis... yg kau butuhkan hanya waktu, sabar dan percaya..
Maka, peganglah kendali hatimu,
Lalu..Arahkan pd Nya..
Dan cintailah dalam diam..
Dalam hening..
Itu jauh lebih indah..
Jauh lebih suci…


