Showing posts with label Kata- Kata Hikmah. Show all posts
Showing posts with label Kata- Kata Hikmah. Show all posts

Friday, July 31, 2015

Setiap kali engkau memperbaiki niatmu, maka Allah akan memperbaiki keadaanmu. 

Dan setiap kali engkau mengharapkan kebaikan untuk orang lain, engkau akan mendapatkan kebaikan dari arah yang tidak kamu sangka. 

Dan saat kita hidup untuk membahagiakan orang lain, Allah akan memberi kita rizki berupa orang lain yang akan membahagiakan kita. 

Maka berusahalah untuk memberi bukan menerima, karena setiap kali engkau memberi, maka engkau akan menerima tanpa meminta sekalipun!

(Syaikh Shalih Awadh Al Mughamisi - Imam Masjid Quba)

Tuesday, May 19, 2015

Apapun yang terjadi, sesibuk apapun, seberat apapun, sebanyak apapun amanah yang harus dikerjakan dan harus diselesaikan. Yang pertama selesaikan dulu ‘Amanah Allah’. Hari ini hafalan qur’annya sudah bertambah? Murojaah hafalannya sudah? Ibadahnya wajib dan sunnahnya sudah dilaksanakan dengan baik? Insya Allah, ketika Allah sudah ridha dengan ikhtiar yang kita lakukan, waktu akan terasa lapang, akan banyak pintu-pintu kemudahan dan keberkahan yang akan terbuka untuk menyelesaikan semuanya dengan baik. Semakin banyak amanah, semakin meningkat kualitas ibadah.”
(Yoyoh Yusroh, 2010)

Saturday, May 16, 2015

Karena setiap ujian adalah bentuk cinta-Nya

Hijabalila:

Dear, pernahkah kamu merasakan penatnya hidup ? Ketika air mata tak sanggup lagi melukiskan bebanmu :"

Ketika saudara tak lagi mampu menjadi teman berbagi, seolah bumi tak lagi bersahabat dengan suasana hatimu :"

Saat itu Allah sedang menunjukkan cinta-Nya padamu

Cinta yang pernah Allah letakkan pada Nabi Ibrahim saat mengujinya dengan api

Cinta yang pernah Allah lukiskan di hati Nabi Ayyub dengan ujian penyakit

Cinta yang pernah Allah hujamkan pada Rasulullah dengan ujian dari kaum kafir

Meski kadarnya tak sama, tapi itu adalah bagian dari cinta Allah

Allah bebankan masalah di pundakmu, agar engkau menunduk sujud pada-Nya

Allah teteskan kepedihan di qalbumu, agar air matamu mengalir mengingat-Nya

Allah letakkan kesempitan dihatimu agar engkau mengingat-Nya, melapangkan hati

Semua karena Allah mencintai do'a, sujudmu dan memohon pada-Nya

Bukankah mereka yang beriman diuji Allah ?
Sebagai pembuktian bahwa kita orang yang beriman, beriman pada Allah saat lapang dan sempit

Bila hari ini pundakmu terlalu berat menahan masalahmu, saat itu sajadah menunggumu untuk bermunajat

Saat itu juga Allah sedang menantimu untuk memohon, memohon belas kasih dan cinta-Nya.

Karena setiap ujian adalah bentuk cinta-Nya ♡

Tuesday, May 5, 2015

Jika jodoh adalah bagian dari rizqi

Jika jodoh adalah bagian dari rizqi, boleh jadi berlaku pula kaidah yang sama. Sosok itu telah tertulis namanya. Tiada tertukar, dan tiada salah tanggal. Tetapi rasa kebersamaan, akan ditentukan oleh bagaimana adab dalam mengambilnya. Bagi mereka yang menjaga kesucian, terkaruniakanlah lapis-lapis keberkahan. Bagi mereka yang mencemarinya dengan hal-hal mendekati zina, ada kenikmatan yang kan hilang meski pintu taubat masih dibuka lapang-lapang. Sebab amat berbeda, yang dihulurkan penuh keridhaan, dibanding yang dilemparkan penuh kemurkaan.
— Salim A. Fillah

Sunday, April 26, 2015

Semua ada waktunya

udashidiq:

Apa jadinya jikalau jeruk dipetik sebelum ia matang?
Banyak cinta yang dipetik di saat yang salah, ia bahkan belum cukup matang untuk dinikmati manisnya.

Hasilnya apa….

cinta yang belum matang hanya akan dibuang, karena ia belumlah manis, belum layak untuk dinikmati

Bersabarlah

Ibnul Qayyim punya istilah yang sangat indah menjelaskan sabda Rasul bahwa mukmin itu seperti pohon kurma

Pohon kurma itu kata ibnul qayyim, paling sabar dedaunannya, tidak mudah jatuh diterpa angin kencang

Begitulah juga seorang mukmin, paling sabar saat musibah, saat menanti dan saat beramal

Tabah dalam cintanya, dalam amalnya..

#konsekuensi memilih untuk menunggu adalah bersabar. Semua ada waktunya.
#don't think too much, just do anything you can do. Let Allah take His turn then.

Friday, April 24, 2015

Kalaulah hati itu bersih...


quranid:

Kalau selama ini kita sulit untuk menjaga interaksi dengan Quran, mungkin karena hati kitanya sedang kotor tertutupi noda bekas dosa.

Maka mintalah Allah untuk membersihkan hatimu dengan memohon ampun kepada-Nya. Agar dengannya kita bisa merasakan lezatnya membaca Quran..

“Ya Allah, rahmatilah kami dengan Quran. Serta jadikanlah Quran sebagai imam, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagiku. Ya Allah, ingatkanlah apa yang aku lupa dari
Quran. Ajarkanlah padaku apa yang aku tidak ketahui darinya, serta berikanlah kami.rezeki berupa kemampuan dan Kelezatan dalam membacanya di siang juga malam.
Serta jadikanlah Quran sebagai hujjah bagiku di yaumul akhir nanti yaa Rabbal ‘aalamiin”.

Allahummarhamna bil qur'aan

Wednesday, April 15, 2015

Bersemangatlah, Kawan…

Satu waktu, sudah lama sekali…
Seseorang berkata dengan wajah sendu…

“Alangkah beratnya… Alangkah banyak rintangan… Alangkah berbilang sandungan… Alangkah rumitnya.”

Aku bertanya, “Lalu?”

Dia menatapku dalam-dalam, lalu menunduk…

“Apakah sebaiknya kuhentikan saja ikhtiar ini?”

“Hanya karena itu kau menyerah kawan?”
Aku bertanya meski tak begitu yakin apakah aku sanggup menghadapi selaksa badai ujian dalam ikhtiar seperti dialaminya,

“Yah… bagaimana lagi? Tidakkah semua hadangan ini pertanda bahwa Allah tak meridhainya?”

Aku membersamainya menghela nafas panjang,
Lalu bertanya, “Andai Muhammad -shalallaahu ‘alaihi wa sallam- berfikir sebagaimana engkau menalar, kan adakah Islam di muka bumi?”

“Maksudmu akhi?”  ia terbelalak.

“Ya. Andai Muhammad berpikir bahwa banyak kesulitan berarti tak diridhai Allah, bukankah ia akan berhenti di awal-awal risalah?”

“Ada banyak titik sepertimu saat ini, Saat Muhammad bisa mempertimbangkan untuk menghentikan ikhtiar…
Mungkin saat dalam rukuknya ia dijerat di bagian leher, Mungkin saat ia sujud lalu kepalanya disiram isi perut unta, Mungkin saat ia bangkit dari duduk lalu dahinya disambar batu, Mungkin saat ia dikatai gila, penyair, dukun, dan tukang sihir, Mungkin saat ia dan keluarga diboikot total di syi’b Abi Thalib, Mungkin saat ia saksikan sahabat-sahabatnya disiksa di depan mata, Atau saat paman terkasih dan istri tersayang berpulang, Atau justru saat dunia ditawarkan padanya; tahta, harta, wanita…”

“Jika Muhammad berpikir sebagaimana engkau menalar, tidakkah ia punya banyak saat untuk memilih berhenti?”

“Tapi Muhammad tahu, kawan… Ridha Allah tak terletak pada sulit atau mudahnya, berat atau ringannya, bahagia atau deritanya, senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya”

“Ridha Allah terletak pada apakah kita menaatiNya dalam menghadapi semua itu? Apakah kita berjalan dengan menjaga perintah dan larangNya dalam semua keadaan dan ikhtiar yang kita lakukan?”
“Maka selama di situ engkau berjalan, bersemangatlah kawan…”

~ Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim A. Fillah (via tumblr) ~

Masya Allah, yang terpenting Allah Ridha titik.

Thursday, April 9, 2015

Percakapan Allah dan seorang hamba

Allah : “ Hambaku, bangunlah! Lakukan shalat malam 11rakaat .. ”

Hamba : “Illahi, aku lelah, tidak sanggup rasanya.”

Allah : “ Hambaku, lakukan 2 rakaat syafa’ dan 1 rakaat witir saja .. ”

Hamba : “Illahi, aku lelah dan rasanya sulit bagiku untuk bangun di tengah malam.”

Allah : “ Hambaku shalat witir saja ..”

Hamba : “Illahi, hari ini capek sekali, apa tidak ada cara lain?”

Allah : “ Hambaku, wudhulah sebelum tidur lalu menatap ke langit katakan YA ALLAH…”

Hamba : “ Illahi, aku sudah ngantuk kalau aku bangun nanti ngantuknya hilang. ”

Allah : “ Hambaku, tayammum saja di tempat tidur mu dan katakan YA ALLAH..”

Hamba : “Illahi, udara terasa dingin sekali, aku tak sanggup mengeluarkan tanganku dari dalam selimut.”

Allah : “ Hambaku, kalau begitu sebut saja dalam hati YA ALLAH, dan akan kami hitung itu sebagai shalat malam. ”

Sampai disini si hamba sudah tidak peduli karena tertidur pulas ..

Allah : “Lihatlah wahai malaikatku, bagaimana telah aku mudahkan semua baginya, akan tetapi dia pergi dariku dan tidur tanpa meninggalkan apapun.. Bila datang waktu subuh bangunkan dia agar dia bermunajat padaku, Karena aku merindukan suaranya ..”

Malaikat : “Ya Illahi, telah kami bangunkan dia tapi dia kembali tidur.”

Allah : “ Bisikkan di telinganya bahwa aku menantinya.”

Malaikat : “Illahi, dia tetap tidur.”

Allah : “ Katakan, sudah azan sebentar lagi matahari terbit. Bangunlah sebelum habis waktu subuh.”

Malaikat : “Illahi, apa Engkau tidak ingin marah padanya?”

Allah : “Hambaku tidak memiliki siapapun selain Aku, semoga suatu saat dia bertobat. Hambaku, ketika engkau shalat aku menyimak dan memandangmu, seakan aku tidak memiliki hamba selainmu… Namun engkau lalai seakan kau memiliki ratusan Tuhan..

Betapa Maha Penyayangnya Engkau, ya Rabb ..
Betapa Maha Pengampunnya Engkau, ya Allah ..
Betapa Maha Agungnya Engkau, ya Illahi …
Ampuni kami hambaMu yang lemah ini…
Aamiin allahumma aamiin :’)

Sumber: Retno DN (blog.retno.net)

Saturday, April 4, 2015

Kitakah ...?

Pada suatu ketika, Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat, “Siapakah yang paling luar biasa imannya?”

Para sahabat menjawab, “Malaikat, ya Rasulallah.”

Balas Rasulullah, “Sudah tentulah malaikat luar biasa imannya, karena mereka senantiasa di sisi Allah.”

Seketika terdiam para sahabat, dan menjawab lagi, “Para nabi, ya Rasulallah.”

Rasulullah saw berkata, “Para nabi sudah tentu hebat imannya, karena mereka menerima wahyu dari Allah.”

Para sahabat mencoba lagi, “Kalau begitu, kamilah yang paling beriman.”

Jawab Rasulullah, “Aku berada di tengah-tengah kalian, sudah tentulah kalian orang yang paling beriman.”

Lalu, salah seorang dari sahabat berkata, “Kalau begitu, Allah dan Rasul-Nya sajalah yang mengetahui.”

Maka dengan perlahan, Rasulullah berkata, “Mereka adalah umat yang hidup sesudahku Mereka membaca al-Quran dan beriman dengan isinya. Orang yang beriman denganku dan pernah bertemu denganku, adalah orang yang bahagia. Namun orang yang tujuh kali lebih bahagia adalah mereka yang tidak pernah bertemu aku tetapi beriman denganku.”

Rasulullah diam seketika. Kemudian, beliau menyambung dengan suara yang lirih, “Sesungguhnya, aku rindukan mereka….”

Kitakah...  yg pantas dirindui Rasulullah??.. tp akhlaq kita sdh spt yg diinginkan Rasulullah ???.. sdhkn kita istiqomah jalankan sunah-sunahnya... ???
Jawabnya ada di hati kita....

Thursday, April 2, 2015

Pilih aku, atau Ibumu

Pagi-pagi sekali, Sarah mengetuk pintu rumah ibunya. Ia menggendong anaknya dan membawa satu tas besar di tangan kanannya. Dari matanya yang
sembab dan merah, ibunya sudah tahu kalau Sarah pasti habis bertengkar lagi dengan Rafi suaminya.
Meski heran, karena biasanya Sarah hanya sebatas menelpon sambil menangis jika bertengkar dengan Rafi. Ayah Sarah yang juga
keheranan, segera menghampiri Sarah dan menanyakan masalahnya. Sarah mulai menceritakan awal pertengkarannya
dengan Rafi tadi malam.
Sarah kecewa karena Rafi telah membohongi Sarah selama ini.
Sarah menemukan buku rekening Rafi terjatuh di dalam mobil. Sarah baru tahu, kalau Rafi selalu menarik sejumlah uang setiap bulan, di tanggal yang sama. Sementara Sarah tahu, uang yang Sarah terima pun sejumlah uang yang sama.
Berarti sudah 1 tahun lebih, Rafi membagi uangnya, setengah untuk Sarah, setengah untuk yang lain. Jangan-jangan ada wanita lain??
Ayah Sarah hanya menghela nafas, wajah bijaksananya tidak menampakkan rasa kaget atau pun marah.
"Sarah..., yang pertama, langkahmu datang ke rumah ayah sudah dilaknat Allah dan para malaikat karena meninggalkan rumah tanpa seizin suamimu" kalimat ayah sontak membuat Sarah
kebingungan.
Sarah mengira ia akan mendapat dukungan dari ayahnya.
"Yang kedua, mengenai uang suamimu, kamu tidak berhak mengetahuinya. Hakmu hanyalah uang yang diberikan suamimu ke tanganmu. Itu pun untuk kebutuhan rumah tangga. Jika kamu membelanjakan uang itu tanpa izin suamimu, meskipun itu untuk sedekah, itu tak boleh". Lanjut
ayahnya.
"Sarah.., Rafi menelpon ayah dan mengatakan bahwa sebenarnya uang itu memang diberikan setiap bulan untuk seorang wanita. Rafi tidak menceritakannya padamu, karena kamu tidak suka wanita itu sejak lama. Kamu sudah mengenalnya, dan kamu merasa setelah menikah dengan Rafi, maka hanya kamulah wanita yang
memilikinya".
"Rafi meminta maaf kepada ayah karena ia hanya berusaha menghindari pertengkaran denganmu. Ayah mengerti karena ayah pun sudah mengenal
watakmu" mata ayah mulai berkaca-kaca.
"Sarah..., kamu harus tahu, setelah kamu.menikah maka yang wajib kamu taati adalah suamimu. Jika suamimu ridho padamu, maka
Allahpun Ridho. Sedangkan suamimu, ia wajib taat kepada ibunya. Begitulah Allah mengatur laki-laki untuk taat kepada ibunya. Jangan sampai kamu menjadi
penghalang bakti suamimu kepada ibundanya".
"Suamimu, dan harta suamimu milik ayahnya". Ayah mengatakan itu dengan tangis. Air matanya semakin banyak membasahi pipinya. Seorang ibu melahirkan anaknya dengan susah payah dan kesakitan. Kemudian ia membesarkannya hingga dewasa. Sampai anak laki-lakinya menikah, ia melepasnya begitu saja. Anak laki-laki itu akan sibuk dengan kehidupan barunya. Bekerja untuk keluarga barunya. Mengerahkan seluruh hidupnya untuk istri dan anak-anaknya. Anak laki-laki itu hanya menyisakan sedikit waktu untuk sesekali berjumpa dengan ibunya. 1 bulan sekali, atau bahkan hanya1 tahun sekali.
"Kamu yang sejak awal menikah tidak suka dengan ibu mertuamu. Kenapa? Karena rumahnya
kecil dan sempit? Sehingga kamu merajuk kepada suamimu bahwa kamu tidak bisa tidur disana. Anak-anakmu pun tidak akan betah disana. Sarah.., mendengar ini ayah sakit sekali".
"Lalu, jika kamu saja merasa tidak nyaman tidur di sana. Bagaimana dengan ibu mertuamu yang di
biarkan saja untuk tinggal disana?"
"Uang itu diberikan untuk ibunya. Rafi ingin ayahnya berhenti berkeliling menjual gorengan. Dari uang itu ibunda Rafi hanya memakainya secukupnya saja, selebihnya secara rutin dibagikan ke anak-anak yatim dan orang-orang tidak mampu di kampungnya. Bahkan masih cukup untuk menggaji seorang guru ngaji di kampung itu" lanjut ayah.
Sarah membatin dalam hatinya, uang yang di berikan Rafi sering dikeluhkannya kurang. Karena Sarah butuh banyak pakaian untuk mengantar jemput anak sekolah. Sarah juga sangat menjaga
penampilannya untuk merawat wajah dan tubuhnya di spa. Berjalan-jalan setiap minggu.
Juga berkumpul sesekali dengan teman-temannya di restoran.
Sarah menyesali sikapnya yang tak ingin dekat-dekat dengan mertuanya yang hanya seorang tukang gorengan. Tukang gorengan yang berhasil menjadikan Rafi seorang sarjana, mendapatkan pekerjaan yang diidamkan banyak orang. Berhasil mandiri, hingga Sarah bisa menempati rumah yang nyaman dan mobil yang bisa ia gunakan setiap hari.
"Ayaaah, maafkan Sarah", tangis sarah meledak.
Ibunda Sarah yang sejak tadi duduk di samping Sarah segera memeluk Sarah.
"Sarah, kembalilah ke rumah suamimu. Ia orang baik. Bantulah suamimu berbakti kepada orang tuanya. Bantu suamimu menggapai surganya, dan dengan sendirinya, ketaatanmu kepada suamimu bisa menghantarkanmu ke surga".
Ibunda sarah membisikkan kalimat itu ke telinga Sarah.
Sarah hanya menjawabnya dengan anggukan, ia menahan tangisnya. Batinnya sakit, menyesali sikapnya.
Namun Sarah berjanji dalam hatinya, untuk menjadi istri yang taat pada suaminya...
Subhanallah....

Monday, March 30, 2015

Agar Alloh Mencukupi

Alhamdulillah! Semoga Alloh Yang Maha Mencukupi, senantiasa memberikan taufik dan hidayah kepada kita agar kita menjadi hamba yang tawakal, berserah diri kepada-Nya. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada baginda nabi Muhammad Saw.
Kita sepakat bahwa yang paling penting bagi kita bukanlah ‘banyak’. Tapi, yang paling penting bagi kita adalah ‘cukup’. Banyak itu relatif, sedangkan cukup itu terukur. Uang banyak belum tentu cukup, yaitu kalau keperluannya melampaui jumlah uangnya.
Jika kita mendengar uang sejumlah lima miliar, maka mungkin kita akan menyebutnya banyak. Tapi jika keperluannya sebesar enam miliar, maka cukup atau tidak? Tentu tidak. Jadi bagi kita tidak penting jumlah, yang penting adalah cukup. Yang penting cukup makan, bukan banyak makan. Yang penting istirahat cukup, bukan banyak istirahat. Setiap sesuatu yang melampaui cukup adalah berlebihan.
Sedangkan berlebihan adalah sesuatu yang tidak disukai oleh Alloh Swt. Orang yang berlebihan itu saudaranya syaitan.
Jadi, kita tidak boleh tergiur untuk bersikap berlebihan.
Alloh Swt. berfirman, “Dan janganlah kamu sekalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al An’am [6] : 141)
Dalam ayat-Nya yang lain, Alloh Swt. berfirman, “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isra [17] : 26-27)
Lantas saudaraku, bagaimana agar Alloh Swt. mencukupi kebutuhan kita? Jawabannya adalah dengan bertawakal. Alloh Swt. berfirman, “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Alloh, niscaya Alloh akan mencukupkan (keperluan)nya.”
(QS. Ath Tholaq [65] : 3)
Mengapa kita harus tawakal kepada Alloh Swt.?
Karena Alloh yang menciptakan kita, dan karena Alloh yang paling mengetahui keperluan kita.
Kemudian, keperluan yang ada pada diri kita pun, itu adalah ciptaan Alloh Swt. Kita tidak paham keperluan kita yang sebenarnya, karena tubuh ini bukan ciptaan kita. Kita tidak paham kebutuhan nutrisi harian kita sebenarnya seperti apa. Ahli kesehatan pun hanya memahami secara terbatas saja, tidak sempurna.
Tubuh kita ini diperkirakan terdiri dari 100an triliun sel! Seluruhnya memiliki kebutuhan, dan kita tidak mengerti apa dan bagaimana caranya memenuhi kebutuhan itu. Akan tetapi, belasan, puluhan tahun kita hidup, tanpa kita sadari semua kebutuhan itu ternyata cukup. Sungguh tidak terbayangkan kalau kita tahu seluruh kebutuhannya dan kita harus mencukupinya, betapa berat sekali hidup ini.
Dalam kondisi sekarang ini, saat kita telah tumbuh berkembang, mampu berpikir dan berikhtiar, mungkin masih mendingan. Coba jikalau kita pikirkan saat kita masih berupa janin di dalam rahim ibu kita. Kita belum mampu berpikir apalagi berikhtiar. Namun, seluruh kebutuhan kita, cukup. Alloh Swt. yang mencukupi kita. Padahal kebutuhan sebuah janin untuk bisa tumbuh dari setiap fase ke fase berikutnya itu sangat rumit.
Jadi tidak perlu risau dengan keperluan kita. Tiba-tiba perut lapar, itu adalah sunnatulloh. Kita tidak mengerti mengapa perut kita harus lapar. Kita juga tidak mengerti mengapa tubuh kita bisa haus, mengapa tubuh kita ingin bernafas. Semua kondisi itu adalah ciptaan Alloh Swt. Termasuk rasa sedih, takut, dan cinta.
Semoga kita termasuk hamba-hamba Alloh yang bertawakal kepada-Nya. Berserah diri semenjak awal hingga akhir perjalanan hidup kita, yang diiringi dengan memaksimalkan doa dan ikhtiar.
Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )

Friday, December 26, 2014

Yang Terbaik

Hidup adalah tentang pilihan, tentang membentukmu menjadi apa dengan apa-apa yang kau pilih. Tentang seperti apa kau ingin dikenali, tentang dengan siapa kau ingin menuju Tuhanmu.

Kata mereka, memilihlah dengan baik, pilihlah yang terbaik. Yang membuatmu selamat dan bahagia tidak hanya di dunia, tapi juga menuju Tuhan. Kata mereka lagi, pilihlah yang benar-benar bisa menjadi imam yang baik, dengan segala kepatuhannya pada Tuhan, dengan segala cintanya pada ibu dan ayahnya.

Bukankah yang terbaik menurut manusia, tak selalu paling baik menurut Tuhan? manusia selalu saja bebal dengan menentukan ukuran standarnya sendiri. Sungguh, manusia tak pernah tau apa yang ada dalam hati, tak pernah tau seperti apa kehidupan di depan, seperti apa bentuk cinta terbaik pun, manusia tak pernah mengerti. 

Bagaimana bila pilihanku jatuh padamu? 

Aku tak tau apa kau yang terbaik atau bukan, karena aku juga tak tau apa aku ini baik atau tidak. Tapi aku yakin, Tuhan akan menyatukan orang yang pantas bersatu.

Bagiamana kalau kita buat kesepakatan?

Kita sama-sama menjadi yang terbaik saja di hadapan Tuhan, berdoa menunggu disatukan.

Bagiamana? kau setuju, kan…

Oleh : Alfi Fatimah Kurniawan

Tuesday, December 2, 2014

Rizqi

“Betapa banyak orang bercita menggenggam dunia.. Dia alpa bahwa hakikat rizqi bukanlah yang tertulis dalam angka, tapi apa yang dinikmatinya.
Betapa banyak orang bekerja membanting tulangnya, memeras keringatnya.. Demi angka simpanan gaji yang mungkin esok pagi ditinggalkannya mati.
Maka amat keliru jika bekerja dimaknai mentawakkalkan rizqi pada perbuatan kita. Bekerja itu bagian dari ibadah. Sedang rizqi itu urusanNya.
Kita bekerja tuk bersyukur, menegakkan taat, dan berbagi manfaat. Tapi rizqi tak selalu terletak di pekerjaan kita; Allah taruh sekehendakNya.”

~ Salim A. Fillah, dalam Lapis-lapis Keberkahan ~

Monday, March 3, 2014

Lebih mudah mana ??

Ketika kita berpikir negatif pada seseorang.......
Tanpa sadar, kita telah menghakimi orang itu.
 
Lebih mudah mana?
Berusaha menyingkirkan semua kerikil tajam di setiap jalanan,.......
atau memakai sepatu agar kaki kita tidak terluka.

Lebih mungkin mana?
Berusaha mensteril semua tempat agar tak ada kuman.....
atau memperkuat daya tahan tubuh kita sendiri..?

Lebih mudah mana?
Berusaha mencegah setiap mulut agar tak bicara sembarangan.....
atau menjaga hati kita sendiri agar tak mudah tersinggung?

Lebih penting mana?
Berusaha menguasai orang lain......
atau belajar menguasai diri sendiri?

Yang penting bukan bagaimana orang harus baik pada kita,  melainkan bagaimana kita berusaha baik pada orang lain. 
Bukan orang lain yang membuat kita bahagia,  melainkan  sikap kita sendiri-lah yang menentukan, kita bahagia atau tidak. 
Setiap waktu yang telah kita habiskan dalam hidup ini,
tidak akan terulang kembali.
Namun ada satu hal yang masih tetap bisa kita lakukan,
yaitu BELAJAR .....
dari masa lalu untuk hari esok yang lebih baik.

Hidup adalah PROSES,
Hidup adalah BELAJAR.
Tanpa ada batas umur
Tanpa ada kata tua.
Belajar sepanjang usia kita ada
Bukan BAHAGIA yang membuat kita bersyukur.
Namun dengan banyak BERSYUKUR akan Membuat kita bahagia.
Sumber : Chaca