Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Wednesday, January 20, 2016

Tentang bangun untuk tahajjud

Kita terlalu sering membuat trik teknis supaya bisa bangun di sepertiga malam. Tidur lebih awal (ini oke). Minum banyak air (menurut saya ini cara bodoh). Pake alarm (ini juga oke). Minta dibangunin orang (ya boleh lah).
Tapi kita lupa, bahwa tahajjud adalah kencan antara kita dengan Allah. Pertemuan akan terjadi jika kedua belah pihak meninginginkan. Sebagus apapun trik teknis agar bangun, jika Allah tidak menghendaki bertemu kita malam itu, kita tidak akan bisa menjalankannya. 
Bahkan ketika sudah bangun pun, Allah selalu punya cara untuk menghalangi kita bertemu dengannya. Seingin apapun kita.
Maka, cara terbaik agar kita bisa bangun tahajjud adalah : menjaga diri sepanjang hari untuk tidak berbuat dosa. Agar Allah pun ingin bertemu dengan kita.
Tapi, bukan berarti yang rajin sholat tahajjud tidak punya dosa juga. 
**manggut-manggut, dengerin diri sendiri kasih nasihat yang gak pernah dijalankan**nasihat ini didapat dari ceramah Ustz. Yusuf Mansur**
(via jagungrebus)

Tuesday, September 8, 2015

Untuk Ayah

HAURA : Bentar lagi ayah usianya nambah, Bun. Aku udah nabung. Kira kira bagusnya aku belikan ayah apa yah bun?

BUNDA : Hm tabungan kamu berapa sayang?

HAURA : Dua ratus ribu, bun

BUNDA : Kamu beli jilbab yang gak transparan, beli kaoskaki dan dress terusan, Nak

HAURA : Jadi itu buat aku?

BUNDA : Iya, buat kamu pakai, Sayang

HAURA : Lah, trus buat ayah?

BUNDA : Kado ayah adalah bahwa anak perempuannya sudah menutup aurat dengan sempurna :)

#ceritaSetengahFiktif

Saturday, July 4, 2015

Ramadhan #17 : Ayah dalam Shaf Terdepan

Berbeda dengan ramadhan tahun lalu dimana aku harus memperlambat langkahku, mengikuti langkah kaki ayah.
“Ayah malu deh, mau ke masjid aja harus dituntun segala.” Katanya setelah kami melewati beberapa pemuda yang sedang nongkrong di ujung gang rumah. “Harusnya mereka yang malu, yah. Masih muda dan sehat tapi gak solat tarawih ke masjid.” Hiburku menimpali.

Alhamduillah aku sudah lancar mengendarai motor. Ayah adalah salah satu motivasiku berani mengendarai motor (lagi). Ramadhan tahun ini aku membonceng ayah menuju masjid yang jaraknya tidak terlalu jauh dari
rumah.

Sesampainya di masjid, ayah dibantu menuju tempat solat oleh tetanggaku. Hijab masjid yang terbuat dari kaca memudahkanku melihat ayah dalam barisan jama’ah laki-laki di depan.

“Koq tadi ayah solatnya di shaf belakang sih, padahal kan tadi datengnya duluan?” tanyaku sesampainya kami di rumah.

“Ayah cuma gak mau ganggu kekhusyuan orang yang solat di samping ayah.”
Ayah yang sudah empat tahun di vonis mengidap gagal ginjal, tahun ini sudah tidak sanggup solat berdiri. Tapi semangatnya untuk tetap berjama’ah di masjid memang juara. Meski harus sebaris dengan anak- anak kecil di shaf belakang, ayah tetap memilih solat teraweh berjama’ah di masjid dengan kondisi solat duduk.

Malam berikutnya, ayah berada di baris kelima dekat jendela. Malam berikutnya lagi di baris ketiga, tetap baris terakhir. Baru pertengahan bulan, tapi sejak hari pertama jama’ah solat tarawih semakin menurun.

Jama’ah perempuan pun sekarang bisa ikut masuk ke ruang solat utama.

Malam ini ayah tidak memintaku
mengantarnya ke masjid.
“Ayah boleh istirahat di rumah aja gak, ya? Simpan tenaga buat jum’atan ke masjid besok,”
“Boleh, Yah.”
“Besok ayah harus di shaf depan.” Katanya menambahkan.

Akupun memutuskan solat tarawih di rumah, menemani ayah. Hari yang di tunggu ayah pun tiba. Kali ini aku tak mengantarnya seorang diri. Dan ayah benar-benar berada
di shaf paling depan. Sendirian.

Ayah benar,
perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan menuju masid, perjalanan menuju Rabbnya

Semoga Allah menghitung setiap
langkahmu menuju masjid, yah.

Pengirim Tulisan :
Lisdha Nurakida
Dibalik Tiga Jendela

Source: Masgun

Friday, June 5, 2015

Salah Sedekah

A : Jadi Bapak percaya Allah membalas sedekah Bapak?
B : Memangnya mas ga percaya??
A : ...
B : Terkadang, kita beribadah merasa tidak ikhlas ketika tidak apa yang kita minta terkabul.

Kemarin juga, anak saya juga begitu, ketika dia bantu saya dan istri saya di rumah. Di hari itu saya ga kasih uang lebih ke dia, eh dia marah. Padahal mas tau saya dan istri sedang menabung untuk membeli sepeda baru untuk anak saya. Kalau kata orang sih SURPRISE namanya. :)

Bukannya Allah ga kasih/ membalas mas, tapi Allah pengen kasih mas SURPRISE.
Tapi kan Allah ga selalu balas dengan uang juga, umur panjang, keluarga harmonis misalnya.

Kadang kita lo yang ga sadar. TETAP BERBAIK SANGKA YA MAS


Allah ga pernah ingkar janji :')

Sumber : @filmmakermuslim

Tuesday, May 19, 2015

Apapun yang terjadi, sesibuk apapun, seberat apapun, sebanyak apapun amanah yang harus dikerjakan dan harus diselesaikan. Yang pertama selesaikan dulu ‘Amanah Allah’. Hari ini hafalan qur’annya sudah bertambah? Murojaah hafalannya sudah? Ibadahnya wajib dan sunnahnya sudah dilaksanakan dengan baik? Insya Allah, ketika Allah sudah ridha dengan ikhtiar yang kita lakukan, waktu akan terasa lapang, akan banyak pintu-pintu kemudahan dan keberkahan yang akan terbuka untuk menyelesaikan semuanya dengan baik. Semakin banyak amanah, semakin meningkat kualitas ibadah.”
(Yoyoh Yusroh, 2010)

Thursday, April 16, 2015

Apakah kita di cintai Allah?

Seseorang yang dicintai Allah mempunyai beberapa ciri:


Dipersulit untuk berbuat maksiat. Contohnya, seseorang itu berniat jahat atau buruk, ada aja caranya Allah untuk menggagalkan niat itu, misalnya tiba- tiba dia lupa, atau ketiduran atau dialihkan keurusan yang lain, bisa jadi langsung Allah tegur sebagai tanda bahwa niatnya itu ga akan direstui Allah.


Dimudahkan untuk taat sadar atau tanpa sadar, contohnya seseorang itu sedang tidur dimalam hari, waktu tajahud tiba, dia lupa pasang alarm tapi tiba- tiba ada kucing berantem, jadi aja dia kebangun, waktu dia ingin tidur lagi, mendadak Allah buat dia pingin buang air kecil, jadilah akhirnya Allah gerakkan hatinya untuk solat tahajud setelahnya. "Oh iya ya, mungkin ini cara Allah bangunin saya, biar saya tahajud :)". dan lain- lain. 

Selalu dibuat bergantung kepada Allah. Banyak yang mengira bahwa ujian, cobaan, kesulitan yang kita alami adalah hukuman dari Allah padahal belum tentu, bisa jadi itu adalah karunia Allah dalam bentuk lain, dengan kesulitan boleh jadi, kita jadi lebih dekat, lebih banyak beribadah, lebih banyak berdoa ke Allah. itu salah satu tanda bahwa Allah membuat kita bergantung kepadaNya. Intinya Allah itu ingin kita selalu dekat denganNya, karena belum tentu ketika Allah beri nikmat kita akan sedekat itu denganNya. 


~ Mesjid Istiqlal, 12 April 2015 ~
AA Gym   

Sunday, April 5, 2015

HIDUP SAYA MEMBOSANKAN, USTADZ

T : "Ustadz, kenapa kok saya ngerasa bosen ya dengan hidup saya yang gini-giniiii terus...
Ga ada variasinya Tadz, ga ada nikmatnya.
Hidupku hambar pak Ustadz. Apalagi masalah saya itu ituuuu aja...  Bosen saya Ustadz... Pengen bahagia tapi ko sulit ya Tadz?"

J : "Ooow.... itu tho...
Mungkin saat ini Alloh juga lagi bosen sama ibu."

T : "Alloh bosen sama saya Ust? Gimana maksudnya tuh ust?"

J : "Mungkin Alloh "capek" nyari ibu tapi ga pernah ketemu.

- Dicari diantara ahli dhuha, ibu ga ada.
- Diantara ahli tahajud juga ga ada.
- Diantara ahli puasa sunnah, ibu juga ga ada.
- Diantara ahli sedekah, ibu juga ga keliatan.
- Diantara ahli Quran, ibu juga ga ada di sana.
- Diantara ahli haji, tabungan pun ibu blm punya, rekening pun ibu blm buka...
- Diantara ahli thalabul 'ilmi, ibu jg gak ada..
- Diantara orang-orang khusyuk sholatnya, ibu juga ga ada.
- Bahkan ibu dicariin diantara mereka yg ahli menutup aurat, tetep juga ga ketemu. Ibu masih minimalis cari yg praktis, tipis, junkis biar isis.

Trus Alloh mesti mau nyari ibu kemana lagi Buuu...?"

T : "????₩¥£€_%%"

Ya Allah...
Berikan kpd kami kemudahan utk taat dan cinta ketaatan padaMu.. Aamiin...