Showing posts with label Tulisan. Show all posts
Showing posts with label Tulisan. Show all posts

Thursday, April 21, 2016

[Surat Untuk Nona] Tak Sendirian

Source : Jalansaja

Selamat malam, Nona, bagaimana kabarmu? Semoga senantiasa dibahagiakan yak.

Kudengar kau tengah merasa sendirian? Benarkah? Meski aku percaya kau tak lupa bahwa Tuhan tak pernah meninggalkan, tapi memang akan ada saat dimana kita merasa berjuang seorang diri. Lalu apanya yang salah, bukankah kita memang tengah menuju impian kita masing-masing?

Tentu saja kita tak pernah bisa memaksa setiap yang dekat dengan kita untuk punya impian serupa, bahkan walau hanya untuk sekadar memahami impian kita. Impian kita adalah tanggung jawab kita sendiri. Jika memang merasa sendiri dan ingin ada temannya, kita yang harus aktif mencari–mencari teman yang sepemikiran misalnya.

Setiap kita punya proses pembelajarannya masing-masing. Titik merasa sendiri itu tak bisa dihindari, hanya bagaimana cara kita menanggapi.

Hei, kau lupa? Kau tak berjalan sendiri, ada aku yang tengah berjalan pula pada tujuan yang sama. Kita tengah sama-sama belajar menujunya dengan cara yang benar sesuai anjuran-Nya, kan? Ah, jangan bercanda, jangan bilang kau lupa itu.

Tak perlu khawatir tentang bagaimana pertemuan kita, di mana pertemuan kita, dan kapan waktunya, tapi khawatirlah tentang apa yang sudah kita persiapakan untuk menujunya. Percayalah, bertemu saat kita masih sama-sama banyak kurangnya; kurang pemahamannya, kurang imannya, kurang ilmunya, seringkali kita hanya akan dihantui begitu banyak keraguan.

Mari sama-sama perbaiki lagi niatnya. Jika benar ingin dilakukan untuk-Nya, mari sama-sama terus berupaya senantiasa menuju itu sesuai jalan yang benar dianjurkan-Nya.

Ada keromantisan yang tak perlu khalayak banyak tahu, cukup kau, aku dan doa-doa dalam diam kita yang kita dekap kuat-kuat. Bukan untuk membuat sesiap kagum, hanya untuk berupaya selalu membuat-Nya tersenyum.

Lagi pula apalah arti bahagia kita, ketika tanpa kita tahu murka-Nya tengah menunggu-nunggu.

Jangan takut sendirian, ada Tuhan, aku, dan doa-doa dalam diam yang sebenarnya telah menyelamatkan. Tuhan menjaga kesendirianmu untuk aku, Tuhan menjaga kesendirianku untuk kamu. Kita tengah sama-sama saling menjaga. Kuharap kau pun percaya demikian. :)

Karena sudah larut, aku akhiri dulu ya, kita sambung lain waktu. Jangan lupa berbahagia yak. Janji!

Selamat malam, Nona. Selamat rehat. Semoga mimpimu aku. Ehem … aku nanana padamu, selalu. ^_^

NB : This letter seems indeed meant to me ^_^

Wednesday, November 11, 2015

Yang diyakini, yang didapatkan

Di saat kita semua berlomba untuk
mengejar impian dengan keyakinan yang amat besar bahwa impian itu baik bagi kita, ada Allah Yang Maha Mengetahui dengan ilmu-ilmuNya bahwa yang terbaik bagi kita tidak selalu sesuai dengan prasangka kita.

Lalu ada kalanya beberapa dari kita mengira bahwa dengan meyakini usaha- usaha kita, kita pasti akan sampai pada impian yang telah kita gantungkan. Lalu di saat yang sama, kita lupa bahwa Allah yang
memiliki kehendak atas takdir-takdir kita.

Bukan keyakinan dan usaha saja yang mengantarkan kita sampai pada tujuan. Tapi hanya kebaikan Allah yang membuat kita sampai pada tujuan.

Pernahkah kamu mendengar sebuah cerita, bahwa ada seorang hamba yang meminta keadilan pada Allah atas amalnya di dunia agar masuk surga, tapi dia tidak mendapatkannya. Lalu dalam cerita itu terajarkan bahwa surga dan segala impian yang kita gantungkan hanya bisa dicapai dengan rahmat Allah, bukan hanya pada amal dan usaha-usaha kita.

Jika suatu saat nanti kamu berada dalam pencapaian mimpimu, maka ingatlah bahwa pencapaian itu bukan sebatas bayaran- bayaran atas usaha-usaha kamu. Tapi di balik itu, ada Allah yang telah menghendaki kamu untuk berada di sana.

Agar tidak sombong diri, seperti Qarun yang mengatakan bahwa “ini semua adalah berkat upayaku” . Agar tidak lupa diri, seperti Firaun
yang berkata “aku adalah tu(h)an kamu sekalian” .

Sesungguhnya, kita perlu bersantun santun pada Allah dalam mencapai tujuan.

Sumber:
http://bagus-adikarya.tumblr.com

Tuesday, September 8, 2015

Untuk Ayah

HAURA : Bentar lagi ayah usianya nambah, Bun. Aku udah nabung. Kira kira bagusnya aku belikan ayah apa yah bun?

BUNDA : Hm tabungan kamu berapa sayang?

HAURA : Dua ratus ribu, bun

BUNDA : Kamu beli jilbab yang gak transparan, beli kaoskaki dan dress terusan, Nak

HAURA : Jadi itu buat aku?

BUNDA : Iya, buat kamu pakai, Sayang

HAURA : Lah, trus buat ayah?

BUNDA : Kado ayah adalah bahwa anak perempuannya sudah menutup aurat dengan sempurna :)

#ceritaSetengahFiktif

Monday, June 8, 2015

Menunggu itu memang bukan pekerjaan mudah, benar kata bang Tere Liye.
Butuh keyakinan yang besar. 
Butuh kreatifitas, agar waktu menunggu tak sia- sia. 
Butuh hati yang lapang untuk menerima apapun hasil dari penantian. 
Laa haula wa laa quwwata illaa billaah

Wednesday, June 3, 2015

Keluarga Surga

A : Janji ya, siapa aja yang bangun duluan, harus bangunin yang lain untuk solat juga!

B : Iya, Insya Allah.

A : Terus siapa aja yang denger adzan duluan, terus liat yang lain masih sibuk sama urusan masing- masing, diingatkan ya untuk solat segera!

B : Siap Pak Boss!!!

A : Nah gitu dong, Semuanya mau kan kita ke Surga bareng- bareng?

B : Mauuuu, mauuu banget. Aamiin ya Allah :')

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah
kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizqi kepadamu. Kami-lah yang memberi rizqi kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa." (QS 20 Thoha ayat 132)

Thursday, May 21, 2015

Kamu adalah apa yang kamu tulis

Kamu adalah apa yang kamu tulis, yang kamu tulis bisa jadi 

apa yang sedang kamu rasakan,
apa yang sedang kamu pikirkan,
apa yang sedang kamu alami,
apa yang sedang kamu sukai,
apa yang sedang kamu baca,
apa yang sedang kamu harapkan,
atau apa yang sedang ingin kamu bagi.

Aku suka baca beberapa blogger/ tumblr.



Tulisan Masgun dan Dhira, bekalangan mereka sering sekali menulis tentang jodoh, tentang sabar, tentang penantian, tentang cinta. Hihi aku tau mereka berdua masih single. Dan sedang dalam penantian. Aku yang juga masih single (ehm) paham sekali dengan tulisan- tulisan mereka. Apa yang mereka tulis sering pas sekali dengan yang sedang aku rasakan juga. :D Ga jarang postingan di blog ini pun terinspirasi dari tulisan mereka.

Juga blogger yang satu ini, sobiku sendiri Retno Dwi Ningsih. Dia sering sekali update di blognya tentang apapun. Lebih banyak cerita tentang pengalaman dan curhatannya dia :D . Tapi bukan cerita biasa kok karna di dalamnya Insya Allah selalu ada hikmahnya. :) Tulisan- tulisan ini ngebantu banget aku untuk tau apa aja yang lagi happening tentang dia, apalagi kita sudah ga sekantor lagi.

Lagi, Aisyafra. Dia seorang ibu rumah tangga juga pengusaha. Tulisannya tentang banyak hal, tentang pernikahan, kehidupan rumah tangga, mendidik anak dan hikmah hikmah lain tentang kehidupan, sudut pandangnya islam. Aku suka tulisan- tulisannya beliau.

Satu Lagi (sebenarnya masih banyak. hihi). Ummu Fatima, "ordinary mother of four lovely children, Faruq, Fatimah Azzahra, Aisyah and my baby-boy Atha. I really love cooking and baking for my beloved family, especially simply healthy cooking and baking. I`m an Indonesian, I was lived in Kumamoto-shi, Japan, for 2,5 years. But now, I already come home to my lovely country, Indonesia :)".
Liat blognya beliau ngiler terus hihi. Food Photography‎ nya keren bangetttt. Jadi semangat belajar masak, semangat jadi istri dan ibu yang kreatif bikin masakan sehat dan enak untuk keluarga nanti.

Masih banyak lagi .......

Dari hasil pemikiran, perasaan, pengalaman, pengetahuan yang mereka tuangkan lewat tulisan, aku bisa banyak belajar dan banyak tau. Pikiran pun jadi lebih terbuka.

Untuk kalian tetap semangat menulis ya, tetaplah menyebar manfaat dan menginspirasi.

Untuk aku, setidaknya dengan menulis aku bisa berbagi sesuatu, menyampaikan dan menuangkan yang tak tersampaikan melalui lisan. Sedikit lebih exist tentunya :D. 
Semoga bermanfaat.

Thursday, May 14, 2015

Ibu, calon istriku dia tidak bisa masak

Di subuh yang dingin,,, ku dapati ibu sudah sibuk memasak untuk keluarga..

"Ibu masak apa? Bisa ku bantu?"

"Ini masak gurame goreng. Sama sambal tomat kesukaan bapak" sahutnya..

"Alhamdulillah.. mantab pasti.. mari saya bantu.
Eh bu.. calon istriku dia tidak bisa masak loh.."

"Iya terus kenapa,,?" Sahut ibu..

"Ya tidak kenapa2 sih bu.. hanya cerita saja, hehehe"..

"Jangan di pikir memasak, mencuci, menyapu, mengurusi rumah dan lain lain itu kewajiban wanita"

"Hah.? Maksut ibu..?" Kaget..

"Itu semua adalah kewajiban lelaki"

"Tapi bukankah ibu setiap hari melakukannya?"

"Kewajiban istri adalah taat pada suami. Karena bapak itu tidak mungkin bisa mengurusi rumah maka ibu bantu mengurusi semuanya. Sebagai wujud cinta dan juga wujud istri yang mencari ridho suaminya"

Saya makin bingung bu.

"Bukankah kewajiban lelaki untuk menafkahi istri? Baik itu sandang, pangan, dan papan" tanya ibu..

"Iya tentu saja bu.."

"Menurut mu pengertian nafkah itu yang seperti apa? Pakaian yang bersih adalah nafkah.
Sehingga mencuci adalah kewajiban suami.
Makanan adalah nafkah. Kalau beras. Itu masih setengah nafkah. Karena belum bisa di makan.
Sehingga memasak adalah kewajiban suami. Lalu rumah adalah kewajiban suami. Sehingga kebersihan rumah adalah kewajiban suami"

"Waaaaah.. sampai segitunya bu..? Lalu jika itu semua kewajiban suami. Kenapa ibu tetap melakukan itu semuanya tanpa menuntut bapak sekalipun?

"Karena ibu juga seorang istri yang mencari ridha dari suaminya. Ibu juga mencari pahala agar selamat di akhirat sana. Karena ibu mencintai ayahmu, mana mungkin ibu tega menyuruh ayahmu yang baru pulang bekerja untuk melakukan tugas itu semua.
Jika ayahmu berpunya mungkin pembantu bisa jadi solusi.
Tapi jika belum ada, ini adalah ladang pahala untuk ibu"

Aku hanya diam..

"Pernah dengar cerita fatimah yang meminta pembantu kepada Nabi karena tangan nya lebam karena menumbuk tepung?" Tapi Nabi tidak memberinya.
Atau pernah dengar juga saat Umar di Omeli istrinya? Umar diam saja karena tahu betul.
Wanita kecintaannya sudah melakukan tugas macam2 yang sebenarnya itu bukanlah tugas
istri. Tapi karena patuh dan taatnya wanita semua ridha di kerjakannya.

"Iya buu..."

"Jadi laki laki selama ini salah sangka ya bu, seharusnya setiap lelaki bertrimakasih pada istrinya. Lebih sayang dan lebih menghormati jerih payah istri."

"Eh. Terus kenapa ibu tetap mau melakukan semuanya padahal itu bukan kewajiban ibu?"

"Menikah bukan hanya soal menuntut hak kita. Atau menuntut kewajiban suami kita. Tapi banyak hal lain. Menurunkan ego. Menjaga keharmonisan. Mengalah. Kerja sama. Kasih sayang. Cinta. Dan Persahabatan. Menikah itu perlombaan untuk brusaha membaikan satu sama lain.

Yang wanita sebaik mungkin membantu suaminya. Yang lelaki sebaik mungkin membantu istrinya. Toh impianya rumah tangga sampai surga"

"Subhanallah.. eeh kalo calon istriku tau hal ini dan dia malas ngapa2 in bu?"

"Wanita beragama tentu tau bahwa ia harus mencari keridhoan suaminya. Sehingga tidak mungkin setega itu.

Sedang lelaki beragama tentu tau bahwa istrinya telah banyak membantu.
Sehingga tidak ada cara lain selain lebih mencintainya"

"Hening..."

Bersumber dari status facebook seorang teman.

Tuesday, May 5, 2015

Jika jodoh adalah bagian dari rizqi

Jika jodoh adalah bagian dari rizqi, boleh jadi berlaku pula kaidah yang sama. Sosok itu telah tertulis namanya. Tiada tertukar, dan tiada salah tanggal. Tetapi rasa kebersamaan, akan ditentukan oleh bagaimana adab dalam mengambilnya. Bagi mereka yang menjaga kesucian, terkaruniakanlah lapis-lapis keberkahan. Bagi mereka yang mencemarinya dengan hal-hal mendekati zina, ada kenikmatan yang kan hilang meski pintu taubat masih dibuka lapang-lapang. Sebab amat berbeda, yang dihulurkan penuh keridhaan, dibanding yang dilemparkan penuh kemurkaan.
— Salim A. Fillah

Wednesday, April 15, 2015

Bersemangatlah, Kawan…

Satu waktu, sudah lama sekali…
Seseorang berkata dengan wajah sendu…

“Alangkah beratnya… Alangkah banyak rintangan… Alangkah berbilang sandungan… Alangkah rumitnya.”

Aku bertanya, “Lalu?”

Dia menatapku dalam-dalam, lalu menunduk…

“Apakah sebaiknya kuhentikan saja ikhtiar ini?”

“Hanya karena itu kau menyerah kawan?”
Aku bertanya meski tak begitu yakin apakah aku sanggup menghadapi selaksa badai ujian dalam ikhtiar seperti dialaminya,

“Yah… bagaimana lagi? Tidakkah semua hadangan ini pertanda bahwa Allah tak meridhainya?”

Aku membersamainya menghela nafas panjang,
Lalu bertanya, “Andai Muhammad -shalallaahu ‘alaihi wa sallam- berfikir sebagaimana engkau menalar, kan adakah Islam di muka bumi?”

“Maksudmu akhi?”  ia terbelalak.

“Ya. Andai Muhammad berpikir bahwa banyak kesulitan berarti tak diridhai Allah, bukankah ia akan berhenti di awal-awal risalah?”

“Ada banyak titik sepertimu saat ini, Saat Muhammad bisa mempertimbangkan untuk menghentikan ikhtiar…
Mungkin saat dalam rukuknya ia dijerat di bagian leher, Mungkin saat ia sujud lalu kepalanya disiram isi perut unta, Mungkin saat ia bangkit dari duduk lalu dahinya disambar batu, Mungkin saat ia dikatai gila, penyair, dukun, dan tukang sihir, Mungkin saat ia dan keluarga diboikot total di syi’b Abi Thalib, Mungkin saat ia saksikan sahabat-sahabatnya disiksa di depan mata, Atau saat paman terkasih dan istri tersayang berpulang, Atau justru saat dunia ditawarkan padanya; tahta, harta, wanita…”

“Jika Muhammad berpikir sebagaimana engkau menalar, tidakkah ia punya banyak saat untuk memilih berhenti?”

“Tapi Muhammad tahu, kawan… Ridha Allah tak terletak pada sulit atau mudahnya, berat atau ringannya, bahagia atau deritanya, senyum atau lukanya, tawa atau tangisnya”

“Ridha Allah terletak pada apakah kita menaatiNya dalam menghadapi semua itu? Apakah kita berjalan dengan menjaga perintah dan larangNya dalam semua keadaan dan ikhtiar yang kita lakukan?”
“Maka selama di situ engkau berjalan, bersemangatlah kawan…”

~ Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim A. Fillah (via tumblr) ~

Masya Allah, yang terpenting Allah Ridha titik.

Saturday, April 11, 2015

Inilah Caraku

Dengan tak menghubungimu,
tak juga mengirim pesan untuk menanyakan kabarmu mungkin ini tak biasa.
Tapi bagiku,
Inilah cara terbaik
Aku menjauh darimu, Bukan karena aku membencimu.
Aku hanya ingin menjagaku juga menjagamu, Menjaga tulusnya hatimu, juga menjaga kesucian hatiku...
Inilah caraku ...
Dalam diamku...
Dalam cara tak biasaku...
Meski sulit...
Meski berat...
Namun ku tahu ini pilihan terbaik agar kita tak terlalu saling mengharap...
Karena berharap hanya pantas pada Sang Pemberi Nafas. Karena berharap hanya pantas digantungkan pada Sang Pengatur Detak Jantung..
Pada-Nya kuharap DIA kan menjagamu untukku, PadaNya kutitipkan hatimu,
Biarlah ku hanya bisa menyapamu lewat senandung do'a...
Agar Untukmulah segala kebaikan,
Agar bersamamulah segala keindahan kelak jika telah tiba waktunya, kan kita arungi hidup ini bersama hingga menuju Surga-Nya...
Aamiin Ya Rabbal'aalamiin

Thursday, April 9, 2015

Percakapan Allah dan seorang hamba

Allah : “ Hambaku, bangunlah! Lakukan shalat malam 11rakaat .. ”

Hamba : “Illahi, aku lelah, tidak sanggup rasanya.”

Allah : “ Hambaku, lakukan 2 rakaat syafa’ dan 1 rakaat witir saja .. ”

Hamba : “Illahi, aku lelah dan rasanya sulit bagiku untuk bangun di tengah malam.”

Allah : “ Hambaku shalat witir saja ..”

Hamba : “Illahi, hari ini capek sekali, apa tidak ada cara lain?”

Allah : “ Hambaku, wudhulah sebelum tidur lalu menatap ke langit katakan YA ALLAH…”

Hamba : “ Illahi, aku sudah ngantuk kalau aku bangun nanti ngantuknya hilang. ”

Allah : “ Hambaku, tayammum saja di tempat tidur mu dan katakan YA ALLAH..”

Hamba : “Illahi, udara terasa dingin sekali, aku tak sanggup mengeluarkan tanganku dari dalam selimut.”

Allah : “ Hambaku, kalau begitu sebut saja dalam hati YA ALLAH, dan akan kami hitung itu sebagai shalat malam. ”

Sampai disini si hamba sudah tidak peduli karena tertidur pulas ..

Allah : “Lihatlah wahai malaikatku, bagaimana telah aku mudahkan semua baginya, akan tetapi dia pergi dariku dan tidur tanpa meninggalkan apapun.. Bila datang waktu subuh bangunkan dia agar dia bermunajat padaku, Karena aku merindukan suaranya ..”

Malaikat : “Ya Illahi, telah kami bangunkan dia tapi dia kembali tidur.”

Allah : “ Bisikkan di telinganya bahwa aku menantinya.”

Malaikat : “Illahi, dia tetap tidur.”

Allah : “ Katakan, sudah azan sebentar lagi matahari terbit. Bangunlah sebelum habis waktu subuh.”

Malaikat : “Illahi, apa Engkau tidak ingin marah padanya?”

Allah : “Hambaku tidak memiliki siapapun selain Aku, semoga suatu saat dia bertobat. Hambaku, ketika engkau shalat aku menyimak dan memandangmu, seakan aku tidak memiliki hamba selainmu… Namun engkau lalai seakan kau memiliki ratusan Tuhan..

Betapa Maha Penyayangnya Engkau, ya Rabb ..
Betapa Maha Pengampunnya Engkau, ya Allah ..
Betapa Maha Agungnya Engkau, ya Illahi …
Ampuni kami hambaMu yang lemah ini…
Aamiin allahumma aamiin :’)

Sumber: Retno DN (blog.retno.net)

Friday, April 3, 2015

Menghargai Usaha Si Kecil

Assalamu'alaikum...

Ada kisah bagus ni, dari komunitas preschool online di facebook. Untuk kita kita para calon ibu, calon ayah, juga untuk yang sudah jadi orangtua.

Semoga bermanfaat :)

Sederhana, tapi mudah2an bisa sedikit membangkitkan semangat ayah bunda dalam membangun interaksi yang positif dengan anak.

Pagi ini seperti biasa saya bersiap-siap mengantar Anak saya Jamie (3 tahun) ke sekolah. Alhamdulillah Jamie sudah bisa pakai baju sendiri, tapi kali ini, bajunya dipakai terbalik
(gambarnya Mickey memeluk dari belakang, dia pikir, Mickeynya harus di depan, jadilah dipakai terbalik) Saya bilang, "Jamie, bajunya terbalik, Nak. Mickeynya harusnya di belakang, yuk mama bantu benerin" padahal menurut saya kata-kata saya sudah halus, tapi Jamie tetap bersikeras bahwa dia benar pakai bajunya dan tidak mau
dibetulkan. Berkali-kali membujuk tapi tetap tidak berhasil. Ya sudah, saya pikir, daripada dia marah, saya ngalah.

Sampai di sekolah, kami disambut gurunya Jamie dengan riang, "waaahhh subhanallaah...cantiknya
Jamie...sepertinya hari ini ada yang pakai baju sendiri, ya???" Jamie senyum lebar. "Itu tanda-tanda anak mandiri, Alhamdulillah..."
Senyumnya tambah lebar.
"Gambar apa itu, Jem?"
"Mickey, bu"
"Cantik, ya? Warnanya pink. Tapi sepertinya akan lebih cantik jika Mickeynya dibelakang, jadi seperti memeluk Jamie. Boleh kita putar?"
"Boleh"
Jawab Jamie langsung, pakai senyum!!!
Rahang saya langsung jatuh saking
herannya...tadi saya sampai berkeringat membujuk+menahan sabar...dimana salah saya sampai Jamie tidak mau menuruti saya?
Karena penasaran, saya cerita ke gurunya Jamie kejadian sebelumnya, dan saya tanya, salah saya dimana??

Begini kata gurunya...
"Ibu tidak salah. Hanya saja, anak akan jadi lebih positif jika kita fokus pada keberhasilannya dulu, baru kita membenarkan kesalahannya" Stlh bicara panjang lebar, sampailah pengertian itu pada saya.

Bahwa kesalahan yang sering terjadi adalah kita terlalu fokus pada kesalahan anak, sehingga kalimat pertama yang keluar dari kita negatif.

Saat itulah anak langsung membentuk benteng pertahanan sehingga kita Sulit untuk memberi
masukan yang positif. Di samping itu, hal ini bisa fatal akibatnya karena bisa meruntuhkan kepercayaan diri sang anak.

Karena menurut dia, memakai baju sendiri adalah sebuah keberhasilan. Hidup mereka memang baru segitu, beda halnya dengan orang dewasa
yang dianggap berhasil jika sukses dalam karier, misalnya.

Anak-anak tidak. Bagi mereka, bisa memakai baju sndri = keberhasilan. Bisa menuang air ke gelas sendiri = keberhasilan. Bisa makan sendiri
= keberhasilan besar!!!

Jadi, Cobalah u/memandang keberhasilan dari level mereka. Jgn lupa, baru berapa tahun mereka hidup di dunia ini???
Jika kita terus fokus pada hal yang negatif (kesalahan anak, seperti baju terbalik, air yang tumpah saat dia tuang, makan yang berantakan,
dll) apa menurut ayah bunda, anak kita tidak sedih jika usahanya tidak dihargai?

U/mengkoreksi anak, juga sangat fatal akibatnya jika kita langsung serobot membetulkan, seperti
misalnya, "Nak itu belum bersih, sini mama bersihin"
Bedakan dengan : "Wah...anak mama bisa membersihkan sendiri...pintarnya...eh kayaknya masih ada sisa kotoran, mau bersihkan sendiri lagi/perlu bantuan mama?" (tawarkan, jangan langgar privasinya) butuh sedikit ekstra waktu, ekstra sabar, tapi insyaAllah efeknya luar biasa positif jika selalu dilakukan. Inilah investasi sebenarnya.

Fokus pada pencapaiannya dulu, baru benarkan kesalahannya dan tawarkan u/membantu, anak akan lbh senang+lebih cepat mandiri ketimbang kita selalu mengerjakan apa yg sebenarnya bisa mereka kerjakan sendiri, asalkan tidak berbahaya.

Pujilah dengan setulus mungkin, ekspresi yang penuh dan semangat, karena semangat itu menular, dan anak2 paling pintar membaca hati org lain. Mereka tau mana yg tulus dan tidak, Maka matapun harus bicara. Pujian dengan ekspresi seperti terkejut campur senang, akan mengukir senyum lebar dan kepercayaan diri anak akan meningkat.

-ega, a proud full time mother of 2 amazing children-
Sumber : pengalaman bunda Ega yang di share
langsung oleh beliau di group WA jabar_1 HEbPA

Thursday, April 2, 2015

Pilih aku, atau Ibumu

Pagi-pagi sekali, Sarah mengetuk pintu rumah ibunya. Ia menggendong anaknya dan membawa satu tas besar di tangan kanannya. Dari matanya yang
sembab dan merah, ibunya sudah tahu kalau Sarah pasti habis bertengkar lagi dengan Rafi suaminya.
Meski heran, karena biasanya Sarah hanya sebatas menelpon sambil menangis jika bertengkar dengan Rafi. Ayah Sarah yang juga
keheranan, segera menghampiri Sarah dan menanyakan masalahnya. Sarah mulai menceritakan awal pertengkarannya
dengan Rafi tadi malam.
Sarah kecewa karena Rafi telah membohongi Sarah selama ini.
Sarah menemukan buku rekening Rafi terjatuh di dalam mobil. Sarah baru tahu, kalau Rafi selalu menarik sejumlah uang setiap bulan, di tanggal yang sama. Sementara Sarah tahu, uang yang Sarah terima pun sejumlah uang yang sama.
Berarti sudah 1 tahun lebih, Rafi membagi uangnya, setengah untuk Sarah, setengah untuk yang lain. Jangan-jangan ada wanita lain??
Ayah Sarah hanya menghela nafas, wajah bijaksananya tidak menampakkan rasa kaget atau pun marah.
"Sarah..., yang pertama, langkahmu datang ke rumah ayah sudah dilaknat Allah dan para malaikat karena meninggalkan rumah tanpa seizin suamimu" kalimat ayah sontak membuat Sarah
kebingungan.
Sarah mengira ia akan mendapat dukungan dari ayahnya.
"Yang kedua, mengenai uang suamimu, kamu tidak berhak mengetahuinya. Hakmu hanyalah uang yang diberikan suamimu ke tanganmu. Itu pun untuk kebutuhan rumah tangga. Jika kamu membelanjakan uang itu tanpa izin suamimu, meskipun itu untuk sedekah, itu tak boleh". Lanjut
ayahnya.
"Sarah.., Rafi menelpon ayah dan mengatakan bahwa sebenarnya uang itu memang diberikan setiap bulan untuk seorang wanita. Rafi tidak menceritakannya padamu, karena kamu tidak suka wanita itu sejak lama. Kamu sudah mengenalnya, dan kamu merasa setelah menikah dengan Rafi, maka hanya kamulah wanita yang
memilikinya".
"Rafi meminta maaf kepada ayah karena ia hanya berusaha menghindari pertengkaran denganmu. Ayah mengerti karena ayah pun sudah mengenal
watakmu" mata ayah mulai berkaca-kaca.
"Sarah..., kamu harus tahu, setelah kamu.menikah maka yang wajib kamu taati adalah suamimu. Jika suamimu ridho padamu, maka
Allahpun Ridho. Sedangkan suamimu, ia wajib taat kepada ibunya. Begitulah Allah mengatur laki-laki untuk taat kepada ibunya. Jangan sampai kamu menjadi
penghalang bakti suamimu kepada ibundanya".
"Suamimu, dan harta suamimu milik ayahnya". Ayah mengatakan itu dengan tangis. Air matanya semakin banyak membasahi pipinya. Seorang ibu melahirkan anaknya dengan susah payah dan kesakitan. Kemudian ia membesarkannya hingga dewasa. Sampai anak laki-lakinya menikah, ia melepasnya begitu saja. Anak laki-laki itu akan sibuk dengan kehidupan barunya. Bekerja untuk keluarga barunya. Mengerahkan seluruh hidupnya untuk istri dan anak-anaknya. Anak laki-laki itu hanya menyisakan sedikit waktu untuk sesekali berjumpa dengan ibunya. 1 bulan sekali, atau bahkan hanya1 tahun sekali.
"Kamu yang sejak awal menikah tidak suka dengan ibu mertuamu. Kenapa? Karena rumahnya
kecil dan sempit? Sehingga kamu merajuk kepada suamimu bahwa kamu tidak bisa tidur disana. Anak-anakmu pun tidak akan betah disana. Sarah.., mendengar ini ayah sakit sekali".
"Lalu, jika kamu saja merasa tidak nyaman tidur di sana. Bagaimana dengan ibu mertuamu yang di
biarkan saja untuk tinggal disana?"
"Uang itu diberikan untuk ibunya. Rafi ingin ayahnya berhenti berkeliling menjual gorengan. Dari uang itu ibunda Rafi hanya memakainya secukupnya saja, selebihnya secara rutin dibagikan ke anak-anak yatim dan orang-orang tidak mampu di kampungnya. Bahkan masih cukup untuk menggaji seorang guru ngaji di kampung itu" lanjut ayah.
Sarah membatin dalam hatinya, uang yang di berikan Rafi sering dikeluhkannya kurang. Karena Sarah butuh banyak pakaian untuk mengantar jemput anak sekolah. Sarah juga sangat menjaga
penampilannya untuk merawat wajah dan tubuhnya di spa. Berjalan-jalan setiap minggu.
Juga berkumpul sesekali dengan teman-temannya di restoran.
Sarah menyesali sikapnya yang tak ingin dekat-dekat dengan mertuanya yang hanya seorang tukang gorengan. Tukang gorengan yang berhasil menjadikan Rafi seorang sarjana, mendapatkan pekerjaan yang diidamkan banyak orang. Berhasil mandiri, hingga Sarah bisa menempati rumah yang nyaman dan mobil yang bisa ia gunakan setiap hari.
"Ayaaah, maafkan Sarah", tangis sarah meledak.
Ibunda Sarah yang sejak tadi duduk di samping Sarah segera memeluk Sarah.
"Sarah, kembalilah ke rumah suamimu. Ia orang baik. Bantulah suamimu berbakti kepada orang tuanya. Bantu suamimu menggapai surganya, dan dengan sendirinya, ketaatanmu kepada suamimu bisa menghantarkanmu ke surga".
Ibunda sarah membisikkan kalimat itu ke telinga Sarah.
Sarah hanya menjawabnya dengan anggukan, ia menahan tangisnya. Batinnya sakit, menyesali sikapnya.
Namun Sarah berjanji dalam hatinya, untuk menjadi istri yang taat pada suaminya...
Subhanallah....

Wednesday, March 11, 2015

Memahami hujan

Kamu boleh jatuh dimana saja.
Kapan saja. Itu adalah hakmu. Dengan rintikmu atau dengan derasnya.
Aku berusaha mengenalimu dari pertandamu.
Berusaha merasakan kehadiranmu yang tak pernah aku tahu.
Dari sekian banyak hujan yang jatuh di bumi. Dimana kamu diantara
mereka.
Hujan yang ditunggu. Karena aku tahu hujan pun sebenarnya menunggu.
Sama sama tidak tahu kapan akan jatuh dan dimana dijatuhkan.
Karena semua itu telah dipilihkan. Hujan yang nanti jatuh mungkin airnya masih di lautan.
Masih menunggu naik ke permukaan awan.
Menunggu ditiupkan angin.
Aku berusaha mengerti, bahwa ada hal yang harus dilalui oleh hujan sebelum ia jatuh ke bumi.

(c)kurniawangunadi

Tuesday, March 10, 2015

Menilai dan Mengenal

Orang yang tidak terlihat sedih, bisa jadi dia yang paling bersedih,
Dia hanya tak ingin membuatmu juga ikut bersedih.

Orang yang tidak terlihat senang, bisa jadi dia yang paling senang,
Dia hanya tak pandai mengekspresikannya.

Orang yang tidak terlihat lelah, bisa jadi dia yang paling lelah,
Dia hanya tak ingin membuatmu khawatir.

Orang yang terlihat berani, bisa jadi dia yang paling penakut,
Dia hanya berusaha melindungimu.

Orang yang terlihat cuek, bisa jadi dia yang paling memperhatikan, yang paling banyak mendoakan, yang paling menyayangi.
Dia ingin, hanya dia dan Tuhan yang tau.

Yang dilihat di luar belum tentu yang dimaksud di dalam.

Jika kau hanya menilai dari yang terlihat, tentu itu tak cukup. 
Kau harus mengenalnya, sehingga kau akan tau dan paham bahkan jika sesuatu itu tak terlihat.

Friday, December 26, 2014

Menyesal

Terkadang kita menyesal terhadap sesuatu yang pernah kita lakukan di masa lalu,
"Ini salahku, seandainya aku tak melakukannya dulu. ahhh"

Stop, menyesal boleh, tanda bahwa kita tau kalau kita salah.
tapi jangan pernah sekali- kali kita berandai- andai.
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersemangatlah untuk meraih segala hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan Alloh dan jangan lemah. Apabila engkau tertimpa sesuatu (yang tidak menyenangkan) janganlah berkata, ‘Seandainya aku dulu berbuat begini niscaya akan menjadi begini dan begitu’ Akan tetapi katakanlah, ‘QaddarAllohu wa maa syaa’a fa’ala, Alloh telah mentakdirkan, terserah apa yang diputuskan-Nya’. Karena perkataan seandainya dapat membuka celah perbuatan syaitan.” (HR. Muslim)
Ingatlah segala sesuatu terjadi dengan takdir, bisa jadi apa yg terjadi dulu memang cara Allah untuk membuat kita lebih baik dimasa sekarang, untuk menjadikan kita manusia yang lebih berhati- hati dalam bertindak, berfikir tentang dampak baik buruknya, juga tak lupa melibatkanNya.

Tuesday, October 14, 2014

Being a Child .. Being a Parent

I dreamed lastnight, I thought this was a good dream, I was pregnant, and I had a child. what a wonderfull feeling to be a mother.

I hope my dream will come true someday.

This dream make me think about being a parent and being a child ,,,

Being a parent is my dream actually. hihihi. 
I know being a parent is not easy, have a child, or children, take care of them, teach them everything , love them, play with them, and you know, they future, they behaviour, they faith is in our hand, we can make them to be a good person if we teach a good think and vice versa.

They like an empty paper which still clean, we can write everything , we can shape it to be everything that we want. that is our privilege

Once again. It's not easy but we can do our best.

Being child, I have the best parent. I learn alot from them how to be a good parent. They rare show their difficulty. They always give their best affort for us(their children). They never ask for when will you pay for all the thing that they have done, take care of you when you sick, feed you, teach you, loving you, send you to school, always thinking about you, worry to you if you have not gone home, remind you to eat. And so many thing that they do maybe we are not realize. 

They never ask us to pay for it right? Even if we ask them ? They only say just be a good child, it is better than anything in this whole world.

Thank you Mama, thank you Bapa, everything I have now, everything I have got, everything that I have reach and really ME now is because of your LOVE and His LOVE. 

I hope ME as your child could be the cause Allah to LOVE YOU, HONOUR YOU, BLESS YOU NOW until HEREAFTER. AAMIIN

"Be a child that you want your child to be ..
Be a parent that you want your parent to be .."