Wednesday, November 11, 2015

Yang diyakini, yang didapatkan

Di saat kita semua berlomba untuk
mengejar impian dengan keyakinan yang amat besar bahwa impian itu baik bagi kita, ada Allah Yang Maha Mengetahui dengan ilmu-ilmuNya bahwa yang terbaik bagi kita tidak selalu sesuai dengan prasangka kita.

Lalu ada kalanya beberapa dari kita mengira bahwa dengan meyakini usaha- usaha kita, kita pasti akan sampai pada impian yang telah kita gantungkan. Lalu di saat yang sama, kita lupa bahwa Allah yang
memiliki kehendak atas takdir-takdir kita.

Bukan keyakinan dan usaha saja yang mengantarkan kita sampai pada tujuan. Tapi hanya kebaikan Allah yang membuat kita sampai pada tujuan.

Pernahkah kamu mendengar sebuah cerita, bahwa ada seorang hamba yang meminta keadilan pada Allah atas amalnya di dunia agar masuk surga, tapi dia tidak mendapatkannya. Lalu dalam cerita itu terajarkan bahwa surga dan segala impian yang kita gantungkan hanya bisa dicapai dengan rahmat Allah, bukan hanya pada amal dan usaha-usaha kita.

Jika suatu saat nanti kamu berada dalam pencapaian mimpimu, maka ingatlah bahwa pencapaian itu bukan sebatas bayaran- bayaran atas usaha-usaha kamu. Tapi di balik itu, ada Allah yang telah menghendaki kamu untuk berada di sana.

Agar tidak sombong diri, seperti Qarun yang mengatakan bahwa “ini semua adalah berkat upayaku” . Agar tidak lupa diri, seperti Firaun
yang berkata “aku adalah tu(h)an kamu sekalian” .

Sesungguhnya, kita perlu bersantun santun pada Allah dalam mencapai tujuan.

Sumber:
http://bagus-adikarya.tumblr.com

Tuesday, September 29, 2015

Ridha Orangtua, Ridhanya Allah

Suatu ketika, seorang sahabat menghadap Rasulullah untuk ikut berperang, dan karena pada saat itu perang di jalan Allah adalah ibadah yang paling utama, Dan tadi meninggalkan orangtuanya untuk ikut berperang, dan dengan bangganya sahabat itu bilang;
"Ya rasululloh, sungguh saya datang kemari untuk ikut berperang. Saya ingin sekali ikut bersamamu membela agama ini, ya Rasululloh.
Bahkan saya rela meninggalkan orangtua saya menangis di rumah karena melarang saya."
Dan dengan tegas, Rasululloh menjawab; "Pulanglah, kembalilah kepada orangtua kamu.
Buat mereka tertawa sebagaimana kamu telah membuatnya menangis."
Pada zaman itu, berperang di jalan Allah adalah ibadah yang paling utama. Tapi rasululloh tidak
mengizinkan sahabatnya berperang tanpa restu ibunya. Malah memintanya kembali kepada orangtua.
Menikah dan berumahtangga juga ibadah. Maka restu orangtua adalah proritas, yang tidak bisa ditawar.
Kalau masih ada peluang, bertahanlah,
berjuanglah untuk meyakinkan orangtua, untuk mendapatkan restunya. Kalau sekiranya
kemungkinannya sedikit sekali, bahkan hampir tidak mungkin.
Mungkin dia memang bukan jodoh Anda

Sumber : lupa dari mana (unknown)

Tuesday, September 8, 2015

Untuk Ayah

HAURA : Bentar lagi ayah usianya nambah, Bun. Aku udah nabung. Kira kira bagusnya aku belikan ayah apa yah bun?

BUNDA : Hm tabungan kamu berapa sayang?

HAURA : Dua ratus ribu, bun

BUNDA : Kamu beli jilbab yang gak transparan, beli kaoskaki dan dress terusan, Nak

HAURA : Jadi itu buat aku?

BUNDA : Iya, buat kamu pakai, Sayang

HAURA : Lah, trus buat ayah?

BUNDA : Kado ayah adalah bahwa anak perempuannya sudah menutup aurat dengan sempurna :)

#ceritaSetengahFiktif

Friday, August 14, 2015

Bagaimana cara menjawab titipan salam

Contoh :suatu saat kita dapat salam dari seseorang :

"Mas dapat salam dari ustadz yang tadi khutbah"

Atau 

"Teh dapat salam dari ustadzah teteh, katanya hafalan teteh makin bagus"

⌚Biasanya kita jawab :
Iya, Waalaikumsalam (keselamatan senantiasa untuk kalian)

Kalau jawab 'waalaikumsalam' 
maka kita hanya mendoakan orang yang menyampaikan 

Karena kata 'kum' dalam ilmu nahwu adalah 'dhamir mukhatab' atau kata ganti orang yang ada di hadapan kita, sehingga orang yang menitip salam belum mendapatkan doa dari kita

⌛Ternyata di zaman Rasul juga ada titip salam lho

“Sesungguhnya ayahku  mengucapkan  salam  kepadamu”. Maka  Nabi  SAW  menjawab, “ ‘Alaika  wa  ‘alaa  abiikas  salaam  (Semoga keselamatan atas kamu dan atas bapakmu)”. [HR, Abu Dawud juz 4, hal. 358, no. 5231] 

Berkata al-Allamah Ibnu Qoyyim rahimahullah, “Di antara petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wa sallam adalah apabila seseorang menyampaikan salam kepadanya dari orang selainnya, Beliau menjawab salam orang yang menyampaikan salam tersebut dan orang yang menitipkannya”.

Bagaimana cara menjawabnya❓

Kalau dirinci cara menjawabnya tergantung yang menyampaikan dan yang menitip salam:

➿ Kalau yang menyampaikan laki2 dan menitip salam juga laki2 
Jawab kita : 
'Alaika wa 'Alaihis salam = 
Semoga keselamatan selalu untukmu(lk) dan untuknya(lk)

➿Kalau yang menyampaikan laki2 dan yang menitip salam perempuan 

Jawab kita : 
'Alaika wa 'Alaihas salam = 
Semoga keselamatan selalu untukmu(lk) dan untuknya(pr)

➿Kalau yang menyampaikan perempuan dan yang menitip salam laki2 
Jawab kita :
'Alaiki wa 'Alaihis salam
 Semoga keselamatan untukmu (pr) dan atasnya(lk)

➿ Kalau yang menyampaikan perempuan dan yang menitip salam perempuan
Jawab kita :
'Alaiki wa 'Alaihas salam
 Semoga keselamatan untukmu (pr) dan atasnya (pr)

Rumus

Untuk mengingat2 , kita rinci ada 3 tahapan :

➿Siapa yang menyampaikan

Kalau yang menyampaikan laki2 : 
 'Alaika  = Atasmu (laki2)

Kalau yang menyampaikan perempuan :
'Alaiki  = Atasmu (perempuan)

➿ Digabung dengan siapa yang menitip salam

Kalau yang nitip salam laki2 :
'Alaihi = atasnya (laki2)

Kalau perempuan 
'Alaiha = atasnya (perempuan)

Adapun kata sambungnya :  Wa (dan)

➿Kemudian tambahkan di belakangnya lafal 'salam' yang artinya keselamatan 

➿Contoh Penggunaan seperti di atas

Boleh ditambahkan 'wa rahmatullahi wa barakatuh' (kasih sayang Allah dan keberkahan) sebagaimana dicontohkan oleh Aisyah ra saat mendapat salam dari malaikat Jibril

Dari Aisyah radliyallahu anha, bahwasanya Rosulullah Shallalahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya,

      يَا عَائِشَةُ هَذَا جَبْرِيْلُ يَقْرَأُ عَلَيْكِ السَّلَامَ فَقَالَتْ: وَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ تَرَى مَا لَا أَرَى –تريد النَّبِيَّ صلى الله عليه و سلم

            “Wahai Aisyah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu”. Aisyah berkata, “Salam juga untuknya, rahmat dan berkah Allah semoga dilimpahkan kepadanya.
Engkau dapat melihat perkara-perkara yang tidak dapat aku lihat –yang dimaksud   Nabi Shallallahu alaihi wa sallam-

“. [HR al-Bukhoriy: 3217, 3768, 6201, 6249 Muslim: 2447, Abu Dawud: 5232 dan at-Turmudziy: 2846]

Di dalam musnad al-Imam Ahmad terdapat tambahan , Aisyah radliyallahu anha berkata,

      فَقُلْتُ: وَ عَلَيْكَ وَ عَلَيْهِ السَّلَامُ وَ رَحْمَةُ اللهِ وَ بَرَكَاتُهُ

‘Aku menjawab, “Salam pula untukmu (yaitu Rasululullah shallahu alaihi wa sallam) dan semoga salam, rahmat dan berkah Allah Azza wa Jalla dilimpahkan untuknya”. [HR. Imam Ahmad ].

Reposted by:

Team Syiar IHQ
ODOJ

Friday, July 31, 2015

Setiap kali engkau memperbaiki niatmu, maka Allah akan memperbaiki keadaanmu. 

Dan setiap kali engkau mengharapkan kebaikan untuk orang lain, engkau akan mendapatkan kebaikan dari arah yang tidak kamu sangka. 

Dan saat kita hidup untuk membahagiakan orang lain, Allah akan memberi kita rizki berupa orang lain yang akan membahagiakan kita. 

Maka berusahalah untuk memberi bukan menerima, karena setiap kali engkau memberi, maka engkau akan menerima tanpa meminta sekalipun!

(Syaikh Shalih Awadh Al Mughamisi - Imam Masjid Quba)

Saturday, July 4, 2015

Ramadhan #17 : Ayah dalam Shaf Terdepan

Berbeda dengan ramadhan tahun lalu dimana aku harus memperlambat langkahku, mengikuti langkah kaki ayah.
“Ayah malu deh, mau ke masjid aja harus dituntun segala.” Katanya setelah kami melewati beberapa pemuda yang sedang nongkrong di ujung gang rumah. “Harusnya mereka yang malu, yah. Masih muda dan sehat tapi gak solat tarawih ke masjid.” Hiburku menimpali.

Alhamduillah aku sudah lancar mengendarai motor. Ayah adalah salah satu motivasiku berani mengendarai motor (lagi). Ramadhan tahun ini aku membonceng ayah menuju masjid yang jaraknya tidak terlalu jauh dari
rumah.

Sesampainya di masjid, ayah dibantu menuju tempat solat oleh tetanggaku. Hijab masjid yang terbuat dari kaca memudahkanku melihat ayah dalam barisan jama’ah laki-laki di depan.

“Koq tadi ayah solatnya di shaf belakang sih, padahal kan tadi datengnya duluan?” tanyaku sesampainya kami di rumah.

“Ayah cuma gak mau ganggu kekhusyuan orang yang solat di samping ayah.”
Ayah yang sudah empat tahun di vonis mengidap gagal ginjal, tahun ini sudah tidak sanggup solat berdiri. Tapi semangatnya untuk tetap berjama’ah di masjid memang juara. Meski harus sebaris dengan anak- anak kecil di shaf belakang, ayah tetap memilih solat teraweh berjama’ah di masjid dengan kondisi solat duduk.

Malam berikutnya, ayah berada di baris kelima dekat jendela. Malam berikutnya lagi di baris ketiga, tetap baris terakhir. Baru pertengahan bulan, tapi sejak hari pertama jama’ah solat tarawih semakin menurun.

Jama’ah perempuan pun sekarang bisa ikut masuk ke ruang solat utama.

Malam ini ayah tidak memintaku
mengantarnya ke masjid.
“Ayah boleh istirahat di rumah aja gak, ya? Simpan tenaga buat jum’atan ke masjid besok,”
“Boleh, Yah.”
“Besok ayah harus di shaf depan.” Katanya menambahkan.

Akupun memutuskan solat tarawih di rumah, menemani ayah. Hari yang di tunggu ayah pun tiba. Kali ini aku tak mengantarnya seorang diri. Dan ayah benar-benar berada
di shaf paling depan. Sendirian.

Ayah benar,
perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan menuju masid, perjalanan menuju Rabbnya

Semoga Allah menghitung setiap
langkahmu menuju masjid, yah.

Pengirim Tulisan :
Lisdha Nurakida
Dibalik Tiga Jendela

Source: Masgun